(ASKEP ALZHEIMER)
A.
KONSEP DASAR PENYAKIT ALZHEIMER
I. DEFINISI
Penyakit
Alzheimer adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama
menyerang orang berusia 65 tahun keatas.
Alzheimer
merupakan penyakit dengan gangguan degeneratif yang mengenai sel-sel otak dan
menyebabkan gangguan fungsi intelektual, penyakit ini timbul pada pria dan
wanita dan menurut dokumen terjadi pada orang tertentu pada usia 40 tahun
(Keperawatan Medikal Bedah : jilid 1 hal 1003).
II.
EPIDEMIOLOGI
Di
Amerika, sekitar 4 juta orang menderita penyakit ini. Angka
prevalansi berhubungan erat dengan usia. Sekitar 10% populasi diatas 65 tahun menderita penyakit
ini. Bagi individu berusia diatas 85 tahun, angka ini meningkat sampai 47,2%.
Dengan meningkatnya populasi lansia, maka penyakit alzheimer menjadi penyakit
yang semakin bertambah banyak. Insiden kasus alzheimer meningkat pesat sehingga
menjadi epidemi di Amerika dengan insiden alzheimer sebanyak 187 : 100.000 per
tahun dan penderita alzheimer 123 : 100.000 per tahun.
Berdasarkan jenis kelamin,
prevalensi wanita lebih banyak tiga kali dibandingkan laki-laki. Hal ini
mungkin refleksi dari usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan
laki-laki.
III. PENYEBAB
Penyebab yang pasti belum diketahui. Beberapa alternative
penyebab yang telah dihipotesa adalah intoksikasi logam, gangguan fungsi
imunitas, infeksi flament, predisposisi heriditer. Dasar kelainan patologi
penyakit Alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal, kematian daerah spesifik
jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kongnitif dengan penurunan
daya ingat secara progresif. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam
amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel
tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium
intraseluler, kegagalan metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau
terdapat produksi protein abnormal yang non spesifik. Penyakit Alzheimer adalah
penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran
faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan
hanya sebagai pencetus faktor genetika.
Penyebab yang pasti
belum diketahui. Beberapa alternatif penyebab yang telah dihipotesa adalah
intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi
udara/industri, trauma, neurotransmiter, defisit formasi sel-sel filament
presdiposisi heriditer. Dasar kelainan patologi penyakit alzheimer terdiri dar
degenerasi neuronal, kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan
gangguan fungsi kognitif dengan penurunan daya ingat secara progresif.
Adanya defisiensi faktor
pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron.
Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya
peningkatan calcium intraseluler, kegagalan metabolisme energi, adanya formasi
radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik.
Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan
bahwa peran faktor genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa
peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor
lingkungan hanya sebagai pencetus factor genetika.
Patogenesa
Sejumlah patogenesa penyakit alzheimer yaitu:
1. Faktor genetik
Beberapa peneliti
mengungkapkan 50% prevalensi kasus alzheimer ini diturunkan melalui gen
autosomal dominant. Individu keturunan garis pertama pada keluarga penderita
alzheimer mempunyai resiko menderita demensia 6 kali lebih besar dibandingkan
kelompok kontrol normal Pemeriksaan genetika DNA pada penderita alzheimer
dengan familial early onset terdapat kelainan lokus pada kromosom 21 diregio
proximal logarm, sedangkan pada familial late onset didapatkan kelainan lokus
pada kromosom 19. Begitu pula pada penderita down syndrome mempunyai kelainan
gen kromosom 21, setelah berumur 40 tahun terdapat neurofibrillary tangles
(NFT), senile plaque dan penurunan Marker kolinergik pada jaringan otaknya yang
menggambarkan kelainan histopatologi pada penderita alzheimer. Hasil penelitian
penyakit alzheimer terhadap anak kembar menunjukkan 40-50% adalah monozygote
dan 50% adalah dizygote. Keadaan ini mendukung bahwa faktor genetik berperan
dalam penyaki alzheimer. Pada sporadik non familial (50-70%), beberapa ditemukan kelainan lokus kromosom 6, keadaan
ini menunjukkan bahwa kemungkinan faktor lingkungan menentukan ekspresi
genetika pada alzheimer.
2. Faktor infeksi
Ada hipotesa menunjukkan
penyebab infeksi virus pada keluarga penderita alzheimer yang dilakukan secara
immuno blot analisis, ternyata diketemuka adanya antibodi reaktif. Infeksi
virus tersebut menyebabkan infeksi pada susunan saraf pusat yang bersipat
lambat, kronik dan remisi. Beberapa penyakit infeksi seperti Creutzfeldt-Jacob
disease dan kuru, diduga berhubungan dengan penyakit alzheimer. Hipotesa
tersebut mempunyai beberapa persamaan antara lain:
a.
manifestasi klinik yang sama
b.
Tidak adanya respon imun yang spesifik
c.
Adanya plak amyloid pada susunan saraf pusat
d.
Timbulnya gejala mioklonus
e.
Adanya gambaran spongioform
3. Faktor lingkungan
Ekmann (1988),
mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan dalam patogenesa
penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antar lain, aluminium, silicon, mercury,
zinc. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang
ditemukan neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque (SPINALIS). Hal
tersebut diatas belum dapat dijelaskan secara pasti, apakah keberadaan aluminum
adalah penyebab degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang tumpang
tindih. Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidak seimbangan
merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang belum jelas. Ada
dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui reseptor
N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler (Cairan-influks)
danmenyebabkan kerusakan metabolisma energi seluler dengan akibat kerusakan dan
kematian neuron.
4. Faktor imunologis
Behan dan Felman (1970)
melaporkan 60% pasien yang menderitaalzheimer didapatkan kelainan serum protein
seperti penurunan albumin dan peningkatan alpha protein, anti trypsin
alphamarcoglobuli dan haptoglobuli. Heyman (1984), melaporkan terdapat hubungan
bermakna dan meningkat dari penderita alzheimer dengan penderita tiroid. Tiroid
Hashimoto merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering didapatkanpada wanita
muda karena peranan faktor immunitas
5. Faktor trauma
Beberapa penelitian
menunjukkan adanya hubungan penyakit alzheimer dengan trauma kepala. Hal ini
dihubungkan dengan petinju yang menderita demensia pugilistik, dimana pada
otopsinya ditemukan banyak neurofibrillary tangles.
6.
Faktor neurotransmitter
Perubahan neurotransmiter pada
jaringan otak penderita Alzheimer mempunyai peranan
yang sangat penting seperti :
a)
Asetikolin
Barties
et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas spesifik neurotransmitter
dengan cara biopsy sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada penderita
Alzheimer didapatkan penurunan aktivitas kolinasetil transferase,
asetikolinesterase dan transport kolin serta penurunan biosintesa asetilkolin.
Adanya deficit presinaptik kolinergik ini bersifat simetris pada korteks
frontalis, temporalis superior, nucleus basalis, hipokampus. Kelainan
neurotransmitter asetilkolin merupakan kelainan yang selalu ada dibandingkan
jenis neurotransmitter lainnya pada penyakit Alzheimer, dimana pada jaringan
otak/biopsy selalu didapatkan kehilangan cholinergic marker. Pada penelitian
dengan pemberian scopolamine pada orang normal, akan menyebabkan berkurang atau
hilangnya daya ingat. Hal ini sangat mendukung hipotesa kolinergik sebagai
patogenesa penyakit Alzheimer.
b)
Noradrenalin
Kadar
metabolism norepinefrin dan dopamine didapatkan menurun pada jaringan otak
penderita Alzheimer. Hilangnya neuron bagian dorsal lokus seruleus yang
merupakan tempat yang utama noradrenalin pada korteks serebri, berkolerasi
dengan deficit kortikal noradrenergik.
Bowen et al (1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita Alzheimer menunjukan adanya defesit noradrenalin pada presinaptik neokorteks. Palmer et al (1987),Reinikanen (1988), melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post dan ante-mortem penderita Alzheimer.
Bowen et al (1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita Alzheimer menunjukan adanya defesit noradrenalin pada presinaptik neokorteks. Palmer et al (1987),Reinikanen (1988), melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post dan ante-mortem penderita Alzheimer.
c)
Dopamine
Sparks
et al (1988), melakukan pengukuran terhadap aktivitas neurotransmitter region
hypothalamus, dimana tidak adanya gangguan perubahan akivitas dopamine pada
penderita Alzheimer. Hasil ini masih controversial, kemungkinan disebabkan
karena histopatologi region hypothalamus setia penelitian bebeda-beda.
d)
Serotonin
Didapatkan
penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme 5 hidroxi-indolacetil acil pada
biopsy korteks serebri penderita Alzheimer. Penurunan juga didapat pada
subregio hipotalamus sangat bervariasi, pengurangan maksimal pada anterior
hipotalamus sedangkan pada posterior peraventrikuler hipotalamus berkurang
sangat minimal. Perubahan kortikal serotonergik ini beghubungan dengan
hilangnya neuron-neuron dan diisi oleh formasi NFT pada nucleus rephe dorsalis
e)
MAO (manoamin oksidase)
Enzim
mitokondria MAO akan mengoksidasi transmitter monoamine. Akivitas normal MAO A
untuk deaminasi serotonin, norepinefrin, dan sebagian kecil dopamine,
sedangakan MAO-B untuk deaminasi terutama dopamine. Pada penderita Alzheimer,
didapatkan peningkatan MAO A pada hipotalamus dan frontalis sedangakan MAO-B
pada daerah temporal dan menurun pada nucleus basalis dari meynert.
IV. PATOFISIOLOGI
Terdapat
beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai pada penyakit
Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron yang tidak
berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid, bagian
dari suatu protein besar, protein prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron
tersebut terjadi secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya
ukuran otak.
Secara
maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat neuron
korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah
intracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan morfologik (structural)
dan biokimia pada neuron – neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri
khas lesi yang pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson
dan atau dendrit. Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris
yaitu struktur intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri
dari protein “tau”. Dalam SSP, protein
tau sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan
menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel
neuron. Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau, secara
kimia menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus
secara bersama – sama. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks
ganda yang sekelilingnya masing – masing terluka. Dengan kolapsnya system
transport internal, hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak
berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel.
Pembentukan neuron yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak
menyebabkan Alzheimer.
Lesi
khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta) yang
terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal.
A-beta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal
melekat pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan
neuron. APP terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh protease, salah satunya
A-beta, fragmen lengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut.
Gumpalan tersebut akhirnya bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya
membentuk fibril – fibril plak yang membeku, padat, matang, tidak dapat larut,
dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh. Kemungkinan lain adalah A-beta
menghasilkan radikal bebas sehingga menggagu hubungan intraseluler dan
menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan makin rentannya neuron
terhadap stressor.
Selain
karena lesi, perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Secara
neurokimia kelainan pada otak
V. KLASIFIKASI
Terdapat
2 tipe Alzheimer (AD) yaitu:
1)
AD familial (FAD) yang mengikuti
pola bawaan khusus
2)
AD sporadic yang tidak mengikuti
pola bawaan.
VI. GEJALA KLINIS
Pada stadium awal Alzheimer, terjadi keadaan mudah lupa
dan kehilangan ingatan ringan. Terdapat kesulitan ringan dalam aktivitas
pekerjaan dan social. Depresi dapat terjadi pada saat ini. Pasien dapat
kehilangan kemampuannya mengenali wajah, tempat, dan objek yang sudah
dikenalnya. Pasien juga sering mengulang-ulang cerita yang sama karena lupa
telah menceritakannya. Kemampuan berbicara memburuk sampai pembentukan suku
kata yang tidak masuk akal, agitasi, dan peningkatan aktivitas fisik. Nafsu
makan pun bertambah secara berlebihan. Terjadi pula disfagia dan inkontinensia.
Pasien dapat menjadi depresif, curiga, paranoid, dan kasar(perubahan
kepribadian).
- Gejala ringan (lama penyakit 1-3 tahun)
Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru
dipelajari
Disorientasi : tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya
dengan baik
Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin
Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian,
misalnya mudah tersinggung, mudah menuduh ada yang mengambil barangnya, bahkan
menuduh pasangannya selingkuh
- Gejala sedang(lama penyakit 3-10 tahun)
Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari
seperti makan dan mandi
Perubahan tingkah laku, misalnya sedíh dan emosi
Mengalami gangguan tidur
Keluyuran
Kesulitan mengenali keluarga dan teman(pertama-tama yang
akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang yang paling jarang ditemuinya,
mulai dari nama ingá tidak mengenali wajah sama sekali, kemudian bertahap
kepada orang-orang yang cukup jarang ditemui)
- Gejala berat(lama penyakit 8-12 tahun)
Sulit atau kehilangan kemampuan bicara
Sangat tergantung pada caregiver(pengasuh)
Perubahan perilaku : misalnya mudah curiga, depresi, atau
mudah mengamuk
VII.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Klien
dengan penyakit Alzheimer umumnya mengalami penurunan kesadaran sesuai dengan
degenerasi neuron kolinergik dan proses senilisme. Adanya perubahan pada tanda
vital meliputi bradikardi, hipotensi dan penurunan frekuensi pernapasan.
B1 (breathing)
Gangguan
fungsi pernapasan berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivasi, aspirasi makanan
atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas.
Inspeksi : didapatkan klien batuk atau
penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak
napas, dan penggunaan otot bantu napas.
Palpasi : taktil premitus seimbang kanan
dan kiri
Perkusi : adanya suara resonan pada seluruh
lapangan paru.
B2 (blood)
Auskultasi
: Hipotensi postural berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga
gangguan pada pengatruan tekanan darah oleh system saraf otonom.
B3 (brain)
Pengkajian
B3 (Brain) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap dibandingkan system
lainnya.
Inspeksi umum didapatkan berbagai
manifestasi akibat perubahan tingkah laku.
Tingkat kesadaran
Tingkat
kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada perubahan status
kognitif klien.
Pemeiksaan Fungsi Serebri
Status
mental : biasanya status mental klien mengalami perubahan yang berhubungan
dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan motorik
baik jangka pendek maupun memori jangka panjang.
Pemeriksaan saraf krnial
Sistem motorik
Inspeksi
umum pada tahap lanjut klien akan mengalami perubahan pada fungsi motorik
secara umum.
Palpasi
:Tonus otot didapatkan meningkat.
Inspeksi
: Keseimbangan dan koordinasi, didapatkan mengalami gangguan karena adanya
perubahan status kognitif dan ketidakoperatifan klien dengan metode
pemeriksaan.
Pemeriksaan Refleks
Pada
tahap lanjut penyakit Alzheimer, sering didapatkan bahwa klien kehilangan
refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri klien akan berdiri dengan
kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong.
Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke depan
atau ke belakang) dapat menimbulkan sering jatuh.
Sistem Sensorik
Sesuai
berlanjutnya usia, klien dengan penyakit Alzheimer mengalami penurunan terhadap
sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensorik yang ada merupakan hasil
dari neuropati perifer yang dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi
klien secara umum.
B4 (Bladder)
Inspeksi : Pada tahap lanjut, beberapa klien
sering berkemih tidak pada tempatnya , biasanya yang berhubungan dengan
penurunan status kognitif pada klien Alzheimer. Penurunan refleks kandung kemih
yang bersifat progresif dan klien mungkin mengalami inkontinensia urine,
ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk
menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Selama
periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril.
B5 (Bowel)
Inspeksi :Pemenuhan nutrisi berkurang yang
berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang karena kelemahan fisik umum dan
perubahan status kognitif. Karena penurunan aktivitas umum, klien sering
mengalami konstipasi.
B6(Bone)
Inspeksi : Pada tahap lanjut biasanya
didapatkan adanya kesulitan untuk
beraktivitas karena kelemahan umum dan penurunan status kognitif
menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan pemenuhan aktivitas sehari-hari.
Adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan
disebabkan karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan
akan memberikan risiko pada trauma fisik bila melakukan aktivitas.
VIII.
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
1.
Neuropatologi
Diagnosa
definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Secara
umum didapatkan atropi yang bilateral, simetris, sering kali berat otaknya
berkisar 1000 gr (850-1250gr). Beberapa penelitian mengungkapkan atropi lebih
menonjol pada lobus temporoparietal, anterior frontal, sedangkan korteks
oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik tetap utuh (Jerins,
1937). Kelainan-kelainan neuropatologi pada penyakit alzheimer terdiri dari:
a.
Neurofibrillary tangles (NFT)
Merupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari
filamen-filamen abnormal yang berisi protein neurofilamen, ubiquine, epitoque.
NFT ini juga terdapat pada neokorteks,
hipokampus, amigdala, substansia alba, lokus seruleus, dorsal raphe dari inti
batang otak. NFT selain didapatkan pada penyakit alzheimer, juga ditemukan pada
otak manula, down syndrome, parkinson, SSPE, sindroma ektrapiramidal,
supranuklear palsy. Densitas NFT berkolerasi dengan beratnya demensia.
b.
Senile plaque (SP)
Merupakan
struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi nerve ending yang berisi filamen-filamen abnormal, serat amiloid
ektraseluler, astrosit, mikroglia. Amloid prekusor protein yang terdapat pada
SP sangat berhubungan dengan kromosom
21. Senile plaque ini terutama terdapat pada neokorteks, amygdala, hipokampus,
korteks piriformis, dan sedikit didapatkan pada korteks motorik primer, korteks
somatosensorik, korteks visual, dan auditorik. Senile plaque ini juga terdapat
pada jaringan perifer. Perry (1987) mengatakan densitas Senile plaque
berhubungan dengan penurunan kolinergik. Kedua gambaran histopatologi (NFT dan
senile plaque) merupakan gambaran karakteristik untuk penderita penyakit
alzheimer.
c.
Degenerasi neuron
Pada
pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada penyakit alzheimer
sangat selektif. Kematian neuron pada neokorteks terutama didapatkan pada
neuron piramidal lobus temporal dan frontalis. Juga ditemukan pada hipokampus,
amigdala, nukleus batang otak termasuk lokus serulues, raphe nukleus dan
substanasia nigra. Kematian sel neuron kolinergik terutama pada nukleus basalis
dari meynert, dan sel noradrenergik terutama pada lokus seruleus serta sel
serotogenik pada nukleus raphe dorsalis, nukleus tegmentum dorsalis. Telah
ditemukan faktor pertumbuhan saraf pada neuron kolinergik yang berdegenerasi
pada lesi eksperimental binatang dan ini merupakan harapan dalam pengobatan penyakit
alzheimer.
d.
Perubahan vakuoler
Merupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk oval dan
dapat menggeser nukleus. Jumlah vakuoler ini berhubungan secara bermakna dengan
jumlah NFT dan SP , perubahan ini sering didapatkan pada korteks temporomedial,
amygdale, dan insula. Tidak pernah ditemukan pada korteks frontalis, parietal,
oksipital, hipokampus, serebelum dan batang otak.
e. Lewy body
Merupakan
bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada enterhinal, gyrus
cingulate, korteks insula, dan amygdala. Sejumlah kecil pada korteks frontalis,
temporal, parietalis, oksipital. Lewy body kortikal ini sama dengan
immunoreaktivitas yang terjadi pada lewy body batang otak pada gambaran
histopatologi penyakit parkinson. Hansen et al menyatakan lewy body merupakan
variant dari penyakit alzheimer.
2.
Pemeriksaan Neuropsikologik
Penyakit
alzheimer selalu menimbulkan gejala demensia. Fungsi pemeriksaan
neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan fungsi
kognitif umum danmengetahui secara rinci pola defisit yang terjadi. Test
psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh
beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori, kehilangan
ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa. Evaluasi
neuropsikologis yang sistematik mempunyai fungsi diagnostik yang penting
karena:
a. Adanya defisit kognisi yang
berhubungan dgndemensia awal yang dapat
diketahui bila terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat penuaan yang
normal.
b. Pemeriksaan neuropsikologik secara
komprehensif memungkinkan untuk
membedakan kelainan kognitif pada global demensia dengan defisit selektif yang diakibatkan oleh disfungsi
fokal, faktor metabolik, dan gangguan psikiatri.
c. Mengidentifikasi gambaran kelainan
neuropsikologik yang diakibatkan oleh demensia karena berbagai penyebab. The
Consortium to establish a Registry for Alzheimer Disease (CERALD) menyajikan
suatu prosedur penilaian neuropsikologis dengan mempergunakan alat batrey yang
bermanifestasi gangguan fungsi kognitif, dimana pemeriksaannya terdiri dari:
ü Verbal fluency animal category
ü Modified boston naming test
ü Mini mental state
ü Word list memory
ü Constructional praxis
ü Word list recall
ü Word list recognition
Test
ini memakn waktu 30-40 menit dan <20-30 menit pada control.
3.
CT Scan dan MRI
Merupakan metode non invasif yang beresolusi tinggi untuk
melihat kwantifikasi perubahan volume jaringan otak pada penderita alzheimer
antemortem. Pemeriksaan ini berperan dalam menyingkirkan kemungkinan adanya
penyebab demensia lainnya selain alzheimer seperti multiinfark dan tumor
serebri. Atropi kortikal menyeluruh danpembesaran ventrikel keduanya merupakan
gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini. Tetapi gambaran
ini juga didapatkan pada demensia lainnya seperti multiinfark, parkinson,
binswanger sehingga kita sukar untuk membedakan dengan penyakit alzheimer.
Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan
beratnya gejala klinik danhasil pemeriksaan status mini mental. Pada MRI
ditemukan peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler
(Capping anterior horn pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan
predileksi untuk demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal,
gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi
hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii.
Seab et al, menyatakan MRI lebih sensitif untuk membedakan demensia dari
penyakit alzheimer dengan penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran (atropi)
dari hipokampus.
4.
EEG
Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang
suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat
pada lobus frontalis yang non spesifik.
5.
PET (Positron Emission Tomography)
Pada penderita alzheimer, hasil PET ditemukan penurunan
aliran darah, metabolisma O2, dan glukosa didaerah serebral. Up take I.123
sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan
kelainan fungsi kognisi danselalu dan
sesuai dengan hasil observasi penelitian neuropatologi.
6.
SPECT (Single Photon
Emission Computed Tomography)
Aktivitas
I. 123 terendah pada refio parieral penderita alzheimer. Kelainan ini
berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. Kedua
pemeriksaan ini (SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin.
7.
Laboratorium Darah
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada
penderita alzheimer. Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan
penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12,
Calsium, Posfor, BSE, fungsi renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi
sifilis, skreening antibody yang dilakukan secara selektif.
IX. KRITERIA DIAGNOSIS
Terdapat beberapa kriteria untukdiagnosa
klinis penyakit alzheimer yaitu:
1) Kriteria diagnosis tersangka penyakit
alzheimer terdiri dari:
2) Diagnosis tersangka penyakit alzheimer
ditunjang oleh:
3) Gambaran lain tersangka diagnosa penyakit
alzheimer setelah dikeluarkan penyebab demensia lainnya terdiri dari:
4) Gambaran diagnosa tersangka penyakit alzheimer
yang tidak jelas terdiri dari:
5) Diagnosa klinik kemungkinan penyakit alzheimer
adalah:
6) Kriteria diagnosa pasti penyakit alzheimer
adalah gabungan dari kriteria klinik tersangka penyakit alzheimer didapatkan
gambaran histopatologi dari biopsi atau otopsi.
X. TINDAKAN PENANGANAN
Pengobatan
penyakit alzheimer masih sangat terbatas oleh karena penyebab dan patofisiologis masih belun
jelas. Pengobatan simptomatik dan
suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dankeluarga. Pemberian obat stimulan, vitamin B, C, dan E
belum mempunyai efek yang menguntungkan.
A. Penatalaksanaan Medikamentosa
1. Inhibitor kolinesterase
Beberapa
tahun terakhir ini, banyak peneliti menggunakan inhibitor untuk pengobatan
simptomatik penyakit alzheimer, dimana penderita alzheimer didapatkan penurunan
kadar asetilkolin. Untuk mencegah
penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase yang bekerja
secara sentral seperti fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine). Pemberian
obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori danapraksia selama pemberian
berlangsung. Beberapa peneliti menatakan bahwa obat-obatan anti kolinergik akan
memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan penderita alzheimer.
2. Thiamin
Penelitian
telah membuktikan bahwa pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin
pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase
(45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nukleus basalis. Pemberian
thiamin hydrochlorida dengan dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral,
menunjukkan perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo
selama periode yang sama.
3. Nootropik
Nootropik
merupakan obat psikotropik, telah dibuktikan dapat memperbaiki fungsi kognisi
dan proses belajar pada percobaan binatang. Tetapi pemberian 4000 mg pada
penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna.
4. Klonidin
Gangguan
fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan
noradrenergik kortikal. Pemberian klonidin (catapres) yang merupakan
noradrenergik alfa 2 reseptor agonis dengan dosis maksimal 1,2 mg peroral
selama 4 minggu, didapatkan hasil yang kurang memuaskan untuk memperbaiki
fungsi kognitif
5. Haloperiodol
Pada
penderita alzheimer, sering kali terjadi gangguan psikosis (delusi, halusinasi)
dan tingkah laku. Pemberian oral Haloperiod 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan
memperbaiki gejala tersebut. Bila penderita alzheimer menderita depresi
sebaiknya diberikan tricyclic anti depresant (amitryptiline 25-100 mg/hari).
6. Acetyl L-Carnitine
(ALC)
Merupakan
suatu subtrate endogen yang disintesa didalam miktokomdria dengan bantuan enzym
ALC transferase. Penelitian ini menunjukkan bahwa ALC dapat meningkatkan
aktivitas asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase. Pada pemberian dosis
1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan, disimpulkan bahwa dapat
memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif.
B. Penatalaksanaan Non-Medikamentosa
1. Mendukung Fungsi Kognitif.
Karena kemampuan kognitif menurun, maka perawat harus
memberikan lingkungan yang mudah dikenali yang dapat membantu pasien
mengintegrasikan lingkungan sekitar dan aktifitasnya.
2. Peningkatan Keamanan Fisik
Umtuk menghindari jatuh atau kecelakaan lain, semua sumber
bahaya yang jelas harus dihilangkan. Lampu tidur, lampu pemanggil, dan tempat
tidur rendah digunakan saat tidur. Lingkungan yang bebas bahaya memungiknkan
pasien mandiri secara maksimal dan memiliki rasa otonomi.
3. Mengurangi ansietas dan agitasi
Meskipun kehilangan kognitifnya parah,namun ada saat dimana
pasien sadar akan cepat menhilangkan kemampuannya. Pasien menjadi sangat
membutuhksn dukungan emosional yang dapat memperkuat citra diri yang positif.
4. Meningkatkan Komunikasinya
Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk
menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada
kesulitan mengorganisai dan menyampaikan pikiran. Instruksi yang berurutan dan
sederhana dipakai untuk mengingatkan pasien dan sangat membantu pasien.
5. Meningkatkan kemandirian dalam
Proses Perawatan diri
Upaya ditujukan untuk membantu pasien memelihara fungsi
kemandirian selama mungkin. Dianjurkan menyederhanakan aktifitas sehari-hari
dengan menyusun lamgkah-langkah singkat dan mudah dicapai sehingga pasien dapat
merasakan kepuasan diri.
6. Menyediakan Kebutuhan sosialisasi
dan keintiman
Karena sosialisasi dengan teman lama dapat meyenagnkan maka
pasien didorong untuk melakukan kunjungan, saling berkirim surat, dan
bertelepon. Kunjungan sebaiknya singkat dan tidak menimbulkan stress. Sebaiknya
hanya menungunjungi satu sampai dua orang saja dalam sekali kunjungan.
7. Meningktkan nutrisi yang adekuat
Saat makan, keadaan harus tetap dijaga agar keadaan tidak
menjadi konfrontasional. Pasien lebih menyukai makanan yangsudah dikenal yang
tampak menggunakan selera makan dan tersa lezat. Untuk menghindari bermain
dengan makanan, makanan sebaiknya dihidangkan satu-satu.makanan sebaiknya
dipotong kecil-kecil agar tidak tersedak. Makanan sebaiknya disediakan dalam
keadaan hangat.
8. Mendukung dan mendidik pemberi
perawatan dalam keluarga.
Perawat harus peka terhadap masalah emosional yang dihadapi
keluarga. Dukungan dan edukasi pemberi perawatan merupakan komponen yang
penting.
B. KONSEP
DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Adapun
pengkajian yang dilakukan pada penyakit Alzheimer
Aktifitas istirahat
Gejala
: Merasa lelah
Tanda
: Siang/malam gelisah, tidak berdaya,
gangguan pola tidur
Letargi
: penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa, hobi,
ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/ mengikuti acara
program televisi.
Gangguan
keterampilan motorik, ketidakmampuan untuk melakukan hal yang telah biasa yang
dilakukannya, gerakan yang sangat bermanfaat.
Sirkulasi
Gejala : Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik.
hipertensi, episode emboli (merupakan factor predisposisi).
Integritas ego
Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan,
kesalahan persepsi terhadap lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek
dan orang, penimbunan objek : meyakini bahwa objek yang salah penempatannya
telah dicuri. kehilangan multiple, perubahan citra tubuh dan harga diri yang
dirasakan.
Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak
mampu untuk melakukan kewajiban, mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa
membacanya) , duduk dan menonton yang lain, aktivitas pertama mungkin menumpuk
benda tidak bergerak dan emosi stabil, gerakan berulang ( melipat membuka
lipatan melipat kembali kain ), menyembunyikan barang, atau berjalan-jalan.
Eliminasi
Gejala
: Dorongan berkemih
Tanda : Inkontinensia urine/feaces, cenderung konstipasi/
imfaksi dengan diare.
Makanan/cairan
Gejala : Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor
predisposisi) perubahan dalam
pengecapan, nafsu makan, kehilangan berat badan, mengingkari terhadap rasa
lapar/ kebutuhan untuk makan.
Tanda : Kehilangan kemampuan untuk mengunyah,
menghindari/menolak makan (mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan).
dan tampak semakin kurus (tahap lanjut).
Higene
Gejala
: Perlu bantuan /tergantung orang lain
Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan, kebiasaan
personal yang kurang, kebiasaan pembersihan buruk, lupa untuk pergi kekamar
mandi, lupa langkah-langkah untuk buang air, tidak dapat menemukan kamar mandi
dan kurang berminat pada atau lupa pada waktu makan: tergantung pada orang lain
untuk memasak makanan dan menyiapkannya dimeja, makan, menggunakan alat makan.
Neurosensori
Gejala :
Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif,
dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondria tentang kelelahan, diarea, pusing atau kadang-kadang sakit kepala. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif, mengambil keputusan, mengingat yang berlalu, penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh orang terdekat). Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau bagian tubuh dalam ruang tertentu ). dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/sistemik, emboli atau hipoksia yang berlangsung secara periodic ( sebagai factor predisposisi ) serta aktifitas kejang ( merupakan akibat sekunder pada kerusakan otak ).
dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondria tentang kelelahan, diarea, pusing atau kadang-kadang sakit kepala. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif, mengambil keputusan, mengingat yang berlalu, penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh orang terdekat). Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau bagian tubuh dalam ruang tertentu ). dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/sistemik, emboli atau hipoksia yang berlangsung secara periodic ( sebagai factor predisposisi ) serta aktifitas kejang ( merupakan akibat sekunder pada kerusakan otak ).
Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia;
kesulitan dalam menemukan kata- kata yang benar ( terutama kata benda );
bertanya berulang-ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak
memiliki arti; terpenggal-penggal, atau bicaranya tidak terdengar. Kehilangan
kemampuan untuk membaca dan menulis bertahap ( kehilangan keterampilan motorik
halus ).
Kenyamanan
Gejala : Adanya
riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi factor predisposisi atau
factor akselerasinya), trauma kecelakaan ( jatuh, luka bakar dan sebagainya).
Tanda : Ekimosis, laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang
orang lain
Interaksi social
Gejala : Merasa
kehilangan kekuatan. factor psikososial sebelumnya; pengaruh personal dan
individu yang muncul mengubah pola tingkah laku yang muncul.
Tanda
: Kehilangan control social,perilaku tidak tepat.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN
MUNCUL
a. Perubahan proses pikir berhubungan
dengan degeneration neuron iriversibel ditandai dengan tidak mampu
mengintrepitasikan stimuli dan menilai realitas dengan akurat, disorientasi,
apatis, loss deep memory, dan kesulitan dalam
mengamodasikan ide/ perintah.
b. Hambatan interaksi social berhubungan dengan hambatan
komunikasi sekunder akibat penyakit mental kronis ditandai dengan afasia, rasa bermusuhan/menyerang
orang, kehilangan control social, dan perilaku tidak tepat.
c. Hambatan komunikasi verbal
berhubungan dengan iskemia lobus temporal atau frontal sekunder akibat penyakit
Alzheimer ditandai dengan afasia dan disfasia.
d. Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit
kognitif ditandai dengan klien tampak kotor dan bau, klien tampak lemah, klien
tampak kurus, klien tampak pucat.
e. Risiko cedera berhubungan dengan
kerusakan fungsi memori.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Menyusun prioritas
1) Perubahan proses pikir berhubungan
dengan degeneration neuron iriversibel ditandai dengan tidak mampu mengintrepitasikan stimuli dan
menilai realitas dengan akurat, disorientasi, apatis, loss deep memory, dan kesulitan
dalam mengakomodasikan ide/ perintah,.
2) Risiko cedera berhubungan dengan
kerusakan fungsi memori.
3) Sindrom defisit perawatan diri
berhubungan dengan deficit kognitif ditandai dengan klien tampak kotor dan bau,
klien tidak mampu untuk melakukan proses perawatan diri, klien tampak lemah,
klien tampak kurus, klien tampak pucat.
4) Hambatan komunikasi verbal
berhubungan dengan iskemia lobus temporal atau frontal sekunder akibat penyakit
Alzheimer ditandai dengan afasia dan disfasia.
5) Hambatan interaksi social
berhubungan dengan hambatan komunikasi sekunder akibat penyakit mental kronis
ditandai dengan afasia, rasa bermusuhan/menyerang orang, kehilangan control
social, dan perilaku tidak tepat
b.
Intervensi
|
No
|
Diagnosa
keperawatan
|
Tujuan / Out
come
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Perubahan proses pikir berhubungan dengan degeneration
neuron iriversibel ditandai dengan
tidak mampu mengintrepitasikan stimuli dan menilai realitas dengan
akurat, disorientasi, apatis, loss deep memory, dan kesulitan dalam mengakomodasikan ide/ perintah
|
Setelah diberikan askep selama …x24 jam diharapkan gangguan proses pikir tidak
bertambah buruk, dengan out come :
· Klien mampu menginterpretasikan stimulus
sedikit demi sedikit
· Klien mampu mengakomodasikan
sedikit demi sedikit suatu ide/perintah
· Klien mampu mengenali orang-orang
terdekatnya, seperti nama keluarganya.
· Klien mampu mengenali
tempat-tempat disekitarnya, seperti alamat rumah.
· Klien mampu mengenali waktu
seperti pagi, siang, dan malam.
|
Mandiri
- Kaji
tingkat gangguan kognitif seperti perubahan orientasi terhadap orang, tempat
dan waktu, rentang, perhatian, kemampuan berpikir. Bicarakan dengan orang
terdekat mengenai perubahan tingkah laku yang biasa /lamanya masalah yang
telah ada.
- Pertahankan
lingkungan yang tenang dan menyenangkan.
- Gunakan
kata-kata yang pendek dan kalimat yang sederhana dan berikan instruksi
sederhana (tahap demi tahap). ulangi instruksi tersebut sesuai dengan
kebutuhan.
- Dengarkan
dengan penuh perhatian isi dari bicara pasien. Interpretasikan pernyataan,
arti dan kata-kata tersebut. jika memungkinkan, berikan kata-kata yang benar.
- Hindari
kritikan, argumentasi dan konfrontasi negative (stimulasi provokasi )
- Gunakan
distraksi. bicarakan mengenai orang dan kejadian yang sebenarnya ketika
pasien mulai merenungkan ide-ide yang salah, jika hal tersebut tidak
meningkatkan kecemasan/agitasi.
- Hindari
pasien dari aktivitas dan komunikasi yang dipaksakan.
- Ciptakan
aktivitas yang sederhana dan tidak bersifat kompetitif yang didasarkan pada
kemampuan individu.
- Evaluasi
pola dan kecukupan tidur/istirahat. catat adanya letargi, peningkatan peka
rangsang, sering “menguap”, adanya garis hitam dibawah mata.
Kolaborasi
- Antisiklotik,
seperti haloperidol (haldol); tioridazin (Mallril)
- Vasodilator,
seperti siklandelat (Cyclospasmol)
- Titamin
|
Mandiri
- Memberikan
dasar untuk evaluasi/perbandingan yang akan dating dan mempengaruhi pilihan
terhadap intervensi.
- Kebisingan,
keramaian, orang banyak biasanya merupakan sensori yang berlebihan yang
meningkatkan gangguan neuron.
- Sesuai
dengan berkembangnya penyakit, pusat komunikasi dalam otak mungkin saja
terganggu yang menghilangkan kemampuan individu pada proses penerimaan pesan
dan percakapan secara keseluruhan.
- Mengarahkan
perhatian dan penghargaan pada individu. Membantu pasien dengan alat bantu
proses kata dalam menurunkan frustasi.
- Provokasi
menurunkan harga diri dan mungkin diartikan sebagai satu ancaman yang
mencetuskan agitasi atau meningkatkan tingkah laku yang tidak pantas.
- Lamunan
membantu dalam meningkatkan disorientasi. orientasi pada realita meningkatkan
perasaan realita pasien, penghargaan diri dan kemuliaan personal (kebahagiaan
personal).
- Keterpaksaan
menurunkan keikutsertaan pasien dan mungkin juga dapat meningkatkan kecurigaan,
delusi.
- Memotivasi
pasien dalam cara yang menguatkan kegunaannya dan kesenangan diri dan
merangsang realita.
- Kekurangan
tidur dapat mengganggu proses berpikir dan kemampuan koping klien.
Kolaborasi
- Dapat
digunakan untuk mengontrol agitasi, halusinasi. Mallril jarang digunakan
karena adanya beberapa efek samping yang bersifat ekstrapiramidal,
meningkatkan kekacauan mental; masalah penglihatan dan terutama gangguan
berdiri dan berjalan.
- Dapat
meningkatkan kesadaran mental tetapi memerlukan penelitian lebih lanjut.
- Dalam
penelitian merupakan cara yang dilakukan terus menerus untuk menyelidiki
kemanfaatan dari tiamin dosis tinggi selama fase awal penyakit untuk
memperlambat berkembangnya gangguan/meningkatan keadaan kognisi secara
sederhana
|
|
2.
|
Risiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi memori.
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan
selama ....x 24 jam, diharapkan klien tidak mengalami cedera.
|
Mandiri
- Awasi klien secara ketat selama beberapa malam
pertama.
- Anjurkan individu untuk meminta
bantuan selama malam hari.
- Singkirkan benda-benda berbahaya
dari klien.
- Pasang pegangan tangan di kamar
mandi.
- Pertimbangkan penggunaan sistem
alarm.
|
Mandiri
- Untuk mengkaji keamanan klien.
- Untuk menghindarkan risiko cedera
akbat suasana gelap.
- Untuk menghindari risiko
cedera/terpapar benda-benda berbahaya.
- Untuk menghindari terpleset di
kamar mandi.
- Untuk memudahkan klien
menginstruksikan keadaan bahaya pada dirinya.
|
|
3.
|
Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit
kognitif ditandai dengan klien tampak kotor dan bau, klien tidak mampu untuk
melakukan proses perawatan diri, klien tampak lemah, klien tampak kurus,
klien tampak pucat.
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan
selama ...x 24 jam, diharapkan
terdapat perilaku peningkatan dalam pemenuhan perawatan diri dengan
kriteria hasil :
· klien tampak
bersih dan segar
· klien tidak
pucat.
|
Mandiri
- Identifikasi
kesulitan berpakaian/perawatan diri, seperti keterbatasan fisik;
apatis/depresi atau temperatur ruangan.
- Identifikasi
kebutuhan akan kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan
perawatan rambut/kuku/kulit, bersihkan kacamata dan gosok gigi.
- Gabungkan
kegiatan sehari-hari kedalam jadwal aktivitas jika mungkin.
- Kaji kemampuan
dan tingkat itaspenurunan kemampuan ADL dalam skala 0 – 4.
- Rencanakan tindakan untuk defisit motorik seperti tempatkan makanan dan
peralatan di dekat klien agar mampu sendiri mengambilnya.
- Kaji kemampuan
komnikasi untuk BAK. Kemampuan menggunakan urinal pispot. Antarkan ke kamar
mandi bila kondisi memungkinkan .
- Identifikasi kebiasaan
BAB . anjurkan minum dan meningkatkan aktivitas.
Kolaborasi :
- Pemberian suppositoria
dan pelumas faeces / pencahar.
- Konsul ke dokter terapi okupasi.
|
Mandiri
- Memahami
penyebab yang mempengaruhi pilihan intervensi/ strategi
- Sesuai
dengan perkembangan penyakit, kebutuhan akan kebersihan dasar mungkin
dilupakan.
- Mempertahankan
kebutuhan rutin dapat mencegah kebingungan yang semakin memburuk dan
meningkatkan partisipasi pasien.
- Membantu dalam mengantisipasi
dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual.
- Klien akan mampu
melakukan aktivitas sendiri untuk memenuhi perawatan dirinya.
- Ketidakmampuan
berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengososngan kandung
kemih oleh karena masalah neurogenik.
- Meningkatkan latihan dan
menolong mencegah konstipasi
Kolaborasi :
- Pertolongan utama
terhadap fungsi bowell atau BAB
- Untuk
mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.
|
|
4.
|
Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan iskemia
lobus temporal atau frontal sekunder akibat penyakit Alzheimer ditandai
dengan afasia dan disfasia
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan
selama ... x 24 jam, diharapkan klien tidak mengalami hambatan komunikasi
verbal dengan kriteria hasil :
· Membuat
teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan
meningkatkan kemampuan berkomunikasi
|
Mandiri
- Kaji
kemampuan klien untuk berkomunikasi.
-
Menentukan cara-cara berkomunikasi
seperti mempertahankan kontak mata, pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak,
menggunakan kertas dan pensil/bolpoint, gambar, atau papan tulis; bahasa
isyarat, penjelas arti dari komunikasi yang disampaikan.
-
Letakkan bel/lampu panggilan di
tempat mudah dijangkau dan berikan penjelasan cara menggunakannya. Jawab
panggilan tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan klien. Katakan kepada
klien bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan.
-
Kolaborasi dengan
ahli wicara bahasa.
|
Mandiri
- Untuk menentukan tingkat kemampuan klien dalam
berkomunikasi.
- Untuk membantu proses berkomunikasi dengan klien, dan agar
tidak terjadi miskomunikasi.
- Untuk memudahkan klien dalam memanggil perawat saat
membutuhkan bantuan.
- Memberikan terapi bicara pada klien.
|
|
5.
|
Hambatan interaksi social berhubungan dengan hambatan
komunikasi sekunder akibat penyakit mental kronis ditandai dengan afasia,
rasa bermusuhan/menyerang orang, kehilangan control social, dan perilaku
tidak tepat
|
Setelah diberikan Asuhan Keperawatan selama ….x24 jam,
diharapkan kliem mampu melakukan interaksi social, dengan out come :
· klien mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya dengan
baik.
· klien tidak memiliki rasa bermusuhan/menyerang orang.
|
Mandiri
-
Beri individu hubungan suportif.
-
Bantu mengidentifikasi alternative
tindakan.
-
Bantu menganalisis pendekatan yang
berfungsi paling baik.
-
Gunakan pertanyaan dan observasi
untuk mendorong individu dengan keterbatasan keterampilan interaksi
-
Bantu anggota keluarga dalam
memahami dan memberi dukungan.
|
Mandiri
- Agar individu terstimulasi untuk melakukan interaksi
social.
- Agar klien mampu mengidentifikasi tindakan yang baik.
- Agar klien mampu melakukan interaksi dengan orang lain
dengan baik.
- Untuk merangsang klien untuk menjawab pertanyaan perawat
secara tidak langsung menstimulasi klien untuk berinteraksi.
- Dukungan keluarga sangat membantu dalam melakukan
interaksi social.
|
4. EVALUASI
|
No.
Dx
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Evaluasi
|
|
1.
|
Perubahan proses pikir berhubungan
dengan degeneration neuron iriversibel.
|
Proses pikir klien tidak bertambah
buruk :
· Klien mampu menginterpretasikan
stimulus sedikit demi sedikit
· Klien mampu mengakomodasikan
sedikit demi sedikit suatu ide/perintah
· Klien mampu mengenali orang-orang
terdekatnya, seperti nama keluarganya.
· Klien mampu mengenali
tempat-tempat disekitarnya, seperti alamat rumah.
·
Klien mampu mengenali waktu
seperti pagi, siang, dan malam.
|
|
2.
|
Risiko cedera berhubungan dengan
kerusakan fungsi memori.
|
Tidak terjadi cedera.
|
|
3.
|
Sindrom defisit perawatan diri
berhubungan dengan deficit kognitif.
|
Sindrom defisit perawatan diri
teratasi:
· Klien tampak
bersih dan segar
· Klien tidak
pucat.
|
|
4.
|
Hambatan komunikasi verbal
berhubungan dengan iskemia lobus temporal atau frontal sekunder akibat
penyakit Alzheimer.
|
Tercapainya suatu teknik/metode komunikasi yang dapat
dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
|
|
5.
|
Hambatan interaksi social
berhubungan dengan hambatan komunikasi sekunder akibat penyakit mental
kronis.
|
Hambatan interaksi social teratasi:
· Klien mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya denan
baik.
· Klien tidak memiliki rasa bermusuhan/menyerang orang.
|
Daftar
Pustaka
Brunner & Suddarth. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Carpenito, L.J. 2003. Buku
Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku
Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Salemba
Medika: Jakarta
Suprapto. 2009. Alzheimer.
http://fortunestar.co.id/penyakit-lain/78-alzheimer.html.
Yulfran. 2009. Alzheimer.
http://yulianafransiska.wordpress.com/2009/03/15/alzheimer-dementia-pada-penyakit-alzheimer/.
Definisi
Penyakit
Alzheimer atau Senile Dementia of the Alzheimer Type (SDAT) merupakan
gangguan fungsi kognitif yang onsetnya lambat dan gradual, degenerative,
sifatnya progresif dan permanen. Awalnya pasien akan mengalami gangguan fungsi
kognitif dan secara perlahan-lahan akan mengalami gangguan fungsi mental yang
berat.1,2,3,4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar