Kamis, 17 November 2011

PERAWAT DAN KEPERAWATAN PENYAKIT DAN PENGOBATAN MEDIS DALAM PANDANGAN IMAN KRISTEN

 
 
PERAWAT DAN KEPERAWATAN
PENYAKIT DAN PENGOBATAN MEDIS
DALAM PANDANGAN IMAN KRISTEN1
1. LATAR BELAKANG
Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik, Kej 1:1 - 2:7. Kemudian Ia menciptakan manusia pertama untuk berkreasi dengan segala sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Dalam kesepiannya, manusia pertama mampu menaklukkan, memerintah, mengolah, menata, mengatur bahkan memberi nama kepada segala sesuatu yang diserahkan Tuhan Allah kepadanya. Kreativitas manusia pertama tersebut, ternyata tidak mampu mengu­sir kesepian dan kesendiriannya. Oleh sebab itu, Tuhan Allah kembali berinisiatif agar manusia pertama tidak sendiri dan kesepian. Ia menciptakan manusia perempuan ketika manusia laki-laki tertidur serta tidak tahu apa-apa. Setelah manusia menjadi lengkap, mereka menjadi makhluk yang bersosialisasi, disapa dan saling menyapa sebagai Adam dan Hawa, Kej 2:18-25.
Di Taman Eden, Tuhan Allah menyediakan semua kebutuhan hidup -sesuai dengan teori kebutuhan yang modern- Adam dan Hawa sehingga mereka dapat hidup dengan nyaman dan nikmat. Kelengkapan hidup dan kehidupan tersebut antara lain, lihat Kej 2:8-25:
  • sandang-papan-pangan; yaitu berpakaian kemuliaan Allah, sehingga walaupun telanjang, mereka tidak merasa malu, tempat tinggal, adalah Taman Eden menjadi rumah terindah bagi mereka, makanan dan minuman, yaitu semua buah dari pohon yang ada dapat dimakan -hanya ada satu pohon yang buahnya tidak boleh dimakan- serta minuman dari empat anak sungai 
  • bersosialisasi, Adam dan Hawa mampu membangun hubungan sosial yang erat dan akrab, saling berkomunikasi karena mereka sepadan dan sejajar, mereka juga berkomunikasi dengan Tuhan Allah
  • kasih sayang, Tuhan Allah menyediakan dan membawa Hawa kepada Adam untuk dikasihi, mereka dipersatukan oleh Tuhan Allah sendiri sehingga mampu meng-ungkapkan kasih sayang sebagai suami-isteri
  • kemampuan untuk ekspresi diri dan rasa percaya diri, sebagai penguasa serta pengolah hasil ciptaan dengan tanpa rasa takut, sakit dan penderitaan, ada kebebasan serta kemerdekaan dalam mengekspersikan dirinya tanpa diganggu oleh siapapun, mereka juga berkuasa atas semua ciptaan Tuhan Allah lainnya
Akan tetapi, semua kelengkapan dan kenikmatan hidup -yang disediakan Tuhan Allah- tersebut, menjadi rusak dan hilang. Hal itu terjadi bukan semata-mata akibat godaan iblis, tetapi juga karena keinginan manusia untuk menjadi sama seperti Tuhan Allah. Keinginan yang membawa maut tersebut, bukan saja membawa malapetaka bagi manusia tetapi juga untuk ciptaan lainnya, semuanyamengalami akibat dosa. Setelah kejatuhan dalam dosa, manu­sia menyadari keadaannya yang tidak aman, ketakutan dan rasa sakit atau mengalami penderitaan serta penyakit, Kej 3:16-17. Akibat dosa Adam dan Hawa, secara langsung menjadikan manusia merasa malu, telanjang dan bersembunyi dari hadapan Tuhan Allah. Kemudian, mereka dan seluruh ciptaan mengalami penghukuman dari Tuhan Allah. Akibat lain dari dosa Adam dan Hawa adalah semua manusia berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah serta hubungan dengan Tuhan Allah, mereka menjadi tidak dapat tidak berdosa mereka harus mengalami maut dan penghukuman. Penghukuman Tuhan Allah ditujukan kepada para pelaku "drama" di Taman Eden secara langsung dan juga berdampak bagi semua keturunan manusia di bumi. Hal tersebut menyangkut empat hal,
  • pertama, ular harus merangkak dengan perut
  • kedua, perempuan harus sakit dalam melahirkan;
  • ketiga, laki-laki harus bersusahpayah dalam mencari nafkahkeempat, alam mengeluarkan semak duri yang mengakibatkan manusia sulit menaklukkannya
Ketiga hal yang terakhir dari penghukuman di atas, secara langsung maupun tidak langsung menyangkut atau berhubungan dengan manusia laki-laki dan perempuan. Hal tersebut adalah
  • manusia harus menderita dan menjadi sakit akibat hubungan antar sesamanya serta dengan alam
  • rasa sakit yang dialami perempuan ketika melahirkan adalah akibat keharusan serta keinginan kuat dalam hubungannya dengan laki-laki
  • laki-laki harus berusaha keras dalam berusaha atau mencari nafkah, hal ini bisa menimbulkan penyakitsemua tumbuhan pada alam pun tidak lagi menghasilkan buah yang langsung di makan, ada tumbuhan pada alam yang mengeluarkan duri tajam dan bisa melukai manusia.
Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa salah satu akibat dosa adalah penderitaan, penyakit psikhis maupun phisik. Pengalaman penderitaan dan sakit penyakit inilah yang menjadikan manusia berusaha untuk sembuh. Dari sini, ada manusia yang terpanggil secara khusus untuk mampu menyembuhkan berbagai penyakit dan melepaskan serta membantu sesamanya agar bebas dar penderitaan. Orang-orang yang mendapat panggilan khusus tersebut adalah para tenaga medis, dokter, suster, perawat, bidan, dan lain-lain.
2. SEBAB-SEBAB DAN JENIS-JENIS PENYAKIT
Alkitab menunjukkan istilah yang berbeda untuk penyakit, yaitu:
Perjanjian Lama (Ibrani),
  • khala, kholi dan makha-a, artinya dalam keadaan sakit akibat dari ketidakseimbangan tubuh sehingga mendapat infeksi -pasteurella pestis- atau tertular
  • madweh, Ul 7:15, 28:61, dan davar, Maz 41:8, artinya masalah, yaitu masalah buruk
  • itstsavon artinya kesakitan, Kej 3:16-17, hukuman, Kej 4:13

Perjanjian Baru (Yunani)
  • astheneia, berasal dari kata a = tidak/negatif; sthenos = kuat, artinya tidak kuat, lemah secara badani, orang yang dalam kondisi lemah, sakit. Kata kerjanya, astheno atau kakos ekhein
  • kamno dan arrhostos, Yak 5:15, Mark 6:13, artinya tidak tegap
  • malakia artinya nasib buruk
  • nosema dan nosos artinya penyakit
Secara umum Alkitab -PL dan PB- menunjukkan berbagai penyebab penyakit dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Penyebab-penyebab penyakit tersebut antara lain:
a. Akibat Dosa Dan Hukuman
Penderitaan dan penyakit dalam Alkitab sangat erat terkait dengan masalah watak dan asal mula segala kejahatan. Penderitaan adalah pengalaman manusia yang oleh berbagai sebab merupakan salah satu akibat dosa. Orang Ibrani selalu berpikir bahwa penyakit dikirim oleh Tuhan Allah sebagai tanda hukumanNya terhadap perilaku dan perbuatan manusia yang salah, Kel 4:11; Bil 25:18; Ul 32:39; Yoh 9:2; Yes 38:10-20; Maz 38:3. Pengaruh pemikiran ini sampai juga dalam PB -khususnya Paulus- sehingga dalam Roma 1:18-32 terungkap hal yang hampir sama. Di sini, semua bentuk penyimpangan seksual, misalnya homoseks, lesbian, pelacuran, perzinahan dan hubungan seks yang tidak wajar lainya merupakan hukuman Tuhan Allah akibat dosa mereka. Ada hubungan langsung antara dosa dan penderitaan yang dialami umat Allah, tetapi bagi mereka menurut kehendak Tuhan Allah -dalam arti umum- dijanjikan keluputan dari penyakit, Kel 15:25-26; Im 2:14-16, dll. Sedangkan Maz 119:67, Yoh 5:16, di sini menunjukkan penderi­taan penyakit adalah akibat dari perbuatan dan keterlibatan penderita sakit dalam dosa. Termasuk dalam Kisah 5:5 dan 10 -Ananias dan Safira-, dan Kisah 12:21-23 -Herodes-. Penyakit juga merupkan salah satu dari tiga hukuman berat atas bangsa lain, umpamanya yang dialami bangsa Filistin, 1 Sam 5:6, bangsa Asyur, 2 Raj 19:35.

b. Sebagai Sarana Yang Dipakai Tuhan Allah
Disamping itu, Tuhan Allah juga memakai penyakit yang dialami dan diderita manusia dengan berbagai maksud lain misalnya:
  • menunjukkan kasih karunia Allah, dalam 2 Kor 12:1-10, Paulus menderita penyakit yang ia sebut duri dalam daging
  • sebagai sarana untuk mengajar, Musa, Kel 4:24; Miryam, Bil 12:10; Uzia 2 Taw 26:16-21; Yerobeam 2 Taw 13:20; Gehazi 2 Raj 5:25-27;
  • untuk membangun, Ibrani 12:6-11
  • kembali bergantung kepada Tuhan Allah, kemudian belajar mengantungkan diri kepada Tuhan Allah dan menjadi dewasa rohani, Kej 32:24-32
  • membuka diri kepada Tuhan Allah, melalui penyakit yang dialaminya, raja Hizkia membuka hati nya kepada Tuhan Allah, 2 Raj 20:1-7

c. Akibat Pengaruh Setan atau Iblis
Orang Yahudi juga meyakini bahwa -hal ini mungkin akibat penga­ruh dualistik dari agama Persia- penguasa-penguasa lainpun juga berkuasa menghukum manusia seperti setan, Ayub 1 dan 2, Ayub mengala­mi penyakit akibat kegiatan Iblis; roh-roh iblis, Mark 9:17, 25, 1 Yoh 3:8; atau dikuasai oleh iblis, Luk 13:16; Kisah 10:38.
Seseorang dapat dimasuki roh jahat atau kerasukan setan apabila imannya tidak teguh. Orang-orang yang dirasuk setan -Yunani: daimonizomenos- dapat dipakai oleh roh yang memasukinya untuk menimbulkan tindakan-tindakan yang abnormal dan menimbulkan berba-gai penyakit bagi dirinya maupun orang lain. Kerasukan setan ini, sulit diterangkan secara medis tetapi Alkitab menunjukkan kenyataan tersebut. Alkitab menunjukkan bahwa Roh jahat selalu diterangkan menerobos dan menjadikan manusia mengalami penyakit, misalnya tuli, Mat 9:32, buta, Mat 12:22, epilepsi, Luk 9:37-43, gangguan mental, Mark 5:1-20, dan lain-lain.

d. Jenis-jenis Penyakit yang Disebut Dalam Alkitab
Alkitab menyebut berbagai jenis penyakit, baik yang disebabkan oleh penghukuman Tuhan Allah, maupun kelemahan manusia, infeksi serta akibat kerasukan setan. Penyakit-penyakit tersebut adalah:
  • buta, Ul 28:28-29; Mark 8:22-25; Im 26:16; Kej 48:10
  • penyakit kulit, lepra , Ibrani:tsara'at, Im 3, Ayb 2:7; Yes 38:21; 2 Raj 5:1-6; Luk 17:11-20
  • bisu, Ibrani:illem, Yunani:alalos, Mat 9:32-35, 12:27; Mark: 7:32; Luk 1:20, 64
  • tuli, Ibrani: heres, Yunani:Kophos, Yes 29:18, 35:5, 42:18 Mat 11:5; Mark 7:37
  • disentri, 2 Taw 21:15, 18-19; Kis 28:8
  • epilepsi, Mat 4:24,17:15; Mark 9:17-29; Luk 9:38-42
  • batuk kering, Ibrani: sahepet, Im 26:16, Ul 28:22
  • lumpuh, Yunani: paralytikos, Mat 4:24, 8:6, 9:2
  • deman panas, Ibrani:qaddahat, Yunani: pyretos, Ul 28:22, Luk 4:38; Yoh 4:52; Kisah 28:8
  • pendarahan, Ibrani:zob, maqor, Yunani:rhysis, haimorrhoes, Im 15:2, 12:7; Mat 9:20; Mark 5:25; Luk 8:43 menunjuk pada penyakit pendarahan pada alat reproduksi wanita, Im 12:2-5, 15:33, 18:19, 20:18 menunjuk pada haid atau mensturasi, -Ibrani dawa/daweh- yang tidak normal
  • mandul, Kej 18:12, 38:27-30; Kel 1:15-21; Ul 7:14; 1 Sam 1:10; Yeh 16:4-5; Luk 1:25, 23:29
  • luka, 2 Raj 1 : 2
  • sampar, tulah, yang disebabkan oleh adanya mikrobilogis tertentu Kel 9:14; Yer 14:12, Yeh 6:11 penyakit sampar akibat hukuman Tuhan Allah, 2 Sam 24:15; 2 Raj 19:35; Yes 37:36; 2 Taw 6:28; bahkan sampai mati akibat penyakit tersebut, Hos 13:14, Kel 9:3, Pukulan malapetaka, Ibrani: maggepa, makha, nega, Kel 9:14; Yer 19:8; Im 26:21; Mat 24:7, Wah 9:20. Berpengaruh pada perasaan manusia, Maz 91:10; 1 Raj 8:38
  • penyakit perut, busung air, hudropikos, Luk 14:2, sakit usus, 2 Taw 21:16; Yer 16:4; Maz 103:3
  • syphilis, Ams 7:22, 23, tumor, borok-borok, Ibrani: opalin, 1 Sam 5:6-12; 6:5, 19
  • penyakit jiwa, mental, gila, penyakit yang menyakut bidang keji waan juga dijumpai dalam Alkitab, misalnya kegilaan, gila, Ibrani:sigga'on, Yunani: parapromia, mania, Ul 28:28, raja Saul -dalam 1 Sam- mendapat banyak karunia, tetapi dalam beberapa hal ia tidak seimbang, berulang kali diserang oleh hati yang gusar dan murung, dan pada akhir hidupnya ia menderita penyakit saraf -yang suka marah- serta keinginan untuk membunuh diri; Raja Nebukadnezar -dalam Dan 4:28-37- seorang yang giat sekaligus pemurung dan lekas naik darah atau marah dapat membangkitkan penyakit jiwa dan gila, ia juga menderita penyimpangan dalam nafsu makan, walaupun pada akhirnya sembuh dan sadar tetapi tidak dapat memerintah;
  • Zak 12:4; Kisah 26:25; 2 Kor 11:23; 2 Pet 2:16 tidak berpikiran, Yunani: anoia, tanda kehilangan akal, kebodohan hati atau pikiran, 2 Tim 3:9, amarah, Luk 6:11, kebodohan, kebebalan, ketinggian hati, Ibrani:holela, juga dipandang sebagai penyakit, Pekh 1:17, 7:25, 10:13
  • penyakit asmara, berhubungan dengan jiwa -psikis- manusia, Kidung 2:5, 5:8
  • penyakit terminal. Keadaan di mana penderita tidak mungkin lagi disembuhkan kecuali melalui mujizat yang khusus dari Tuhan Allah-misalnya timpang, patah tulang tangan, kaki dan sebaginya. Misalnya -dalam 2 Sam 4:4- Mefiboset mempunyai penyakit yang tidak dapat disembuhkan; Ul 28:27 juga menunjukkan keluhan tentang berbagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
  • Penyakit Terminal juga dikenal dalam Alkitab sebagai tanda bahwa seorang telah lanjut usia. Tanda-tanda itu dikenal dengan berkurangnya kestabilan tubuh, tidak utuh lagi, lekas letih, Maz 71:9, 20. mata tidak terang lagi, Kej 27:21; 1 Sam 3:2; kehilangan kegembiraan, Penkh 12:1-7.
  • Maz 71, menjelaskan bahwa orang yang lanjut usia memohon kebutuhannya yaitu kekuatan dari Tuhan Allah dan keadilanNya, seperti pada masa mudanya. Rambut yang beruban dinilai sebagai mahkota kehormatan yang diperoleh seseorang dalam jalan keadilan, Amos 16:31. Mereka yang beruban disebut penetua/tua-tua atau hakim di pintu gerbang, Ul 21:6-6, 22:15-18; Rut 4:2, 4; Yer 26:17. Abraham, Ishak, dan Yakub meninggal pada umur yang lanjut, Kej 25:7-8.

3. PENYEMBUHAN PENYAKIT
Dalam Alkitab sembuh, kesembuhan, penyembuhan diterjemahkan dari:
Perjanjian Lama
  • rafa/rapha artinya menyembuhkan, penyembuhan, juga untuk penyebutan tabib atau
  • dokter, Kej 5:1-2; 2 Taw 16:12; Ayb 13:4;Yer 8:22
  • khaya, syub, artinya hidup kembali

Perjanjian Baru

  • iskhuo artinya dalam keadaan tegar
  • hugiaino artinya dalam keadaan sehat
  • sozo dan diasozo dipakai dalam arti untuk menyelamatkan dan menyembuhkan seseorang.2
  • stereoo- artinya membangunkan, menjadikan kuat, Kis 3:16
  • holoklreria, artinya kesembuhan, rehabilitasi kesehatan, pemulihan secara badani.3
  • therapeuo/therapi, iaomai, apokhathistemi, artinya menyembuhkan

Ilmu pengobatan dalam Alkitab cocok dengan sifat zamannya -pada saat, situasi dan kondisi Alkitab ditulis serta sesuai dengan pergumulan orang beriman pada masa itu- dan diterangkan dengan istilah-istilah umum, misalnya Ams 17:22; Yer 46:1. Dalam banyak hal pandangan Alkitab mengenai penyakit dan kesehatan pada umumnya, mempunyai kaitan dengan praktik pengobatan modern, dan mungkin lebih mujarab.4 Tabib dan tenaga medis lainnya harus melakukan pengobatan atau penyembuhan penyakit yang bukan saja tertuju pada tindakkan pemulihkan derita fisik, melainkan manusia secara utuh, yaitu tubuh, roh dan jiwa. Karena manusia harus sehat secara keseluruhan, baik perasan, jiwa, rohani maupun tubuhnya benar-benar baik dan sehat, jadi "harus menormalkan kembali keinginan orang yang sakit dan mende­rita". Keinginan orang sakit juga tidak normal, karena hati dan gin­jalnya tidak berfungsi lagi dengan baik.5

Bentuk-bentuk pengobatan -dan obat- yang dicatat Alkitab al:
  • minyak balsam, untuk mengobati bengkak dan luka, Yes 1:6; Yer 8:22, 51:8
  • "sebuah kue ara", dipakai untuk mengobati barah, Yes 38:21
  • anggur dan minyak, dipakai untuk mengobati luka-luka, Luk 10:34,
  • dan pendarahan, Mark 5:26, juga sebagai obat dan pendorong, Ams 31: 6; 1 Tim5:23
  • buah dudaim, dipakai sebagai pembangkit naluri seksual, Kej 30:14-16
Di samping itu, Alkitab juga mengungkapkan tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan hidup, Ul 23:12-13, karantina, Im 12:1-4, makanan haram dan halal, dan lain-lain. Juga mengenai Kesembuhan Ilahi, yaitu kesembuhan yang dialami bukan karena pengobatan tetapi oleh penyataan kuasa Tuhan Allah.

4. KEDUDUKAN PERAWAT DALAM PROSES PERAWATAN DAN  
   PENYEMBUHAN
Kata tabib yang dipakai dalam Alkitab mengandung pengertian sama dengan dokter pada masa kini, Ibrani:Rafa/rapha, Kel 15:26; Yer 8:43, Yunani:iatros, Mark 5:26; Luk 4:23, 5:32, 8:43; Kol 4:14, Lukas sebagai tabib yang dikasihi.
Pengertian tabib ini berbeda dengan 2 Taw 16:12, yaitu tabib yang mempunyai roh sihir dan tidak layak dise­but tabib; Ayb 13:4 tabib palsu. Pada masa lalu, selain tabib juga dikenal orang-orang yang memban­tu pekerjaannya dalam menyembuhkan orang sakit. Mereka tersebut adalah para bidan, pengetahuan kebidanan biasanya dimiliki oleh kaum perempuan yang mempunyai pengalaman dan kesanggupan6 untuk hal tersebut, Kej 38:27-30; Kel 1:15-21; Yeh 6:4-5;
  • pengasuh atau dayang-dayang; dalam kehidupan umat Allah, bahkan hampir semua anak-anak bapa-bapa leluhur, dan keluarga raja mempunyai satu atau lebih pengasuh atau pembimbing wanita perawat (orang yang merawat) orang sakit;merawat dan melayani orang yang berusia lanjut atau tua7, misalnya, Abisag yang merawat Daud pada masa tuanya.
  • Mereka adalah pribadi-pribadi yang dihormati oleh orang lain karena tugasnya dipercayai dan penting. Mereka ini biasanya para wanita, yang dipilih khsusus untuk mengasuh, membimbing bahkan menga­tur kehidupan seorang putra-putri bangsawan atau raja. Mereka seringkali mereka menjadi orang kepercayaan dari yang dilayaninya.
Pada masa sekarang seorang perawat hanya menunjuk pada seseorang membantu dokter atau bertugas merawat orang sakit. Akan tetapi sebe­tulnya tugas dan makna seorang perawat atau nurse bukan hanya seperti di atas, melainkan one who looks after, yang bertugas sebagai tutors or guides another, as in a period of inexperience or sicknes8
Tugas sebagai tutors dan guides inilah yang kadang kala sering dilupakan orang yang sakit bahkan oleh perawat itu sendiri. Ternyata seorang perawat mempunyai tugas dan tanggung jawab lebih besar dari yang dimengerti orang banyak. Jadi, panggilan batin atau dipanggil menjadi seorang perawat adalah sesuatu yang amat mulia, dan tidak dimiliki oleh semua orang9. Panggilan dan tugas ini tidak lebih rendah dari profesi yang lain dalam hidup dan kehidupan ini. Dalam terang Injil, ternyata citra diri seorang perawat ternyata sangat tinggi, ia sama dengan tenaga medis lainya, misalnya dokter atau ahli bedah yang ahli sekalipun. Mereka hanya berbeda dalam keahlian tetapi tidak satupun yang mampu lakukan pengobatan secara sendiri-sendiri, masing-masing mempunyai ikatan dalam tugas bagaikan kesatuan Tubuh Kristus. Lepas dari gaji yang didapatkan, seorang perawat, adalah pribadi mulia yang mengorbankan hidup dan karyanya agar orang lain memperoleh kehidupan, juga pemuli­han diri dari penderitaan dan sakit penyakit.
Dalam arti yang modern, Abisag, 1 Raj 1:3, merupakan seorang perawat yang dipilih dan diangkat untuk merawat raja Daud pada masa tuanya. Ada beberapa kriteria dalam diri Abisag yang dapat dipakai oleh seorang perawat atau tenaga medis pada masa kini. Cerita Orang Samaria Yang Murah Hati, Lukas 10:30-37, menyajikan perawatan ideal yang senantiasa menjiwai dan memacu dunia medis dan para medis serta melukiskan penghambaan diri tanpa pamrih, dan kelanjutan dari perawa­tan itu sendiri. Berdasarkan dua kisah Alkitab tersebut ditambah dengan ayat-ayat Alkitab, dapat dibuat beberapa kriteria perawat menurut terang Injil Kristus, pemahaman iman Kristen. Hal tersebut antara lain:
  1. Dewasa.
Dalam penampilan sehari-hari, seorang perawat harus menunjukkan kedewasaannya. Kedewasaan yang menyangkut semua aspek, yaitu fisik, moral dan mental, psikologis, rohani, serta sosial. Perkembangan dan pertumbuhan untuk mencapai kedewasaan tersebut harus seimbang,
  1. Mempunyai Kehidupan Rohani Yang Baik dan Berteladan
Mempuyai hidup ibadah yang baik, beriman, beribadah, takut kepada Tuhan Allah, sehingga berani menolak permintaan yang bertantangan degan Firman dan kehendak Tuhan Allah Kel 1:15-2010. Dalam menjalankan tugasnya, ia tetap dalam persekutuandenga Tuhan Allah. Ketergantugan kepada Tuhan Allah ini menjadikan seorang perawat menyadari bahwa apa yang dikerjakannya adalah Pekerjaan Tuhan Allah. Dalam kasih dan persekutuannya dengan Tuhan sambil menjalankan pekerjaan-Nya, maka jerih payahnya tidak sia-sia, 1 Kor 15:58.
  1. Cantik, rajin, dan mampu menjaga kesehatan diri sendiri
Dalam konteks Alkitab bukan dalam pengertian "cantik" seperti seorang bintang film atau selebritis lainnya melainkan berdandan dengan perbuatan baik seperti yang layak bagi perempuan beribadah, 1 Tim 2:9-10. Kecantikan yang datang bukan dari penampilan lahiriah, tetapi manusia batiniah yang tersembunyi, yaitu roh lemah lembut dan membawa damai sejahtera. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapan kepada Tuhan Allah, 1 Pet 3:3-5. Di samping menjaga kebersihan dan kesehatan diri sendiri, ia harus mempunyai sikap dan penampilan yang baik teratur serta disiplin. Jadi, secara luas yang dimaksud disini adalah kemampuan untuk menjaga seluruh eksistensi hidupnya dengan baik dan sehat, tubuh, jiwa dan rohaninya, energik dan antusias dalam menghadapi serta menjalankan tugas.
  1. Ministry bukan Service
Sikap yang melayani kebutuhan pasien, bukan semata-mata karena tugas atau dibayar, tetapi mempunyai panggilan pelayanan atau untuk melayani, ministry, sama dengan pelayanan seorang pendeta, bukan sekedar serve/service. Memang pelayanannya adalah menyembuhkan luka-luka atau derita fisik, namun jika ia mampu memadukan dengan penyembuhan batin, maka akan berdampak lebih besar dan luas dari pengobatan medis.
  1. Menghindari godaan seksual,
Kemampuan menghindari godaan seksual, tidak menutup kemungkinan bahwa perhatian dan pelayanan yang diberikan seorang perawat kepada pasien -apalagi yang masih muda- yang berbeda jenis, dapat menimbul­kan hubungan yang lebih intim. Ini tidak menjadi masalah, tetapi jika pasien menjadikan perawatnya sebagai "obyek pelampiasan hasrat seksu­al" berdasarkan "transaksi jual-beli"
  1. Mampu memberikan kehangatan dan semangat hidup kepada pasien.
Pada saat pasien sudah kehilangan pengharapan dan putus asa, hampir tidak mempunyai semangat hidup karena penderitaan yang dialaminya, justru seorang perawat menjadi "juruselamat" baginya. Ia melayani dengan lemah lembut dan mampu memberikan rasa aman serta damai sejat­era kepada pasien.
  1. Setia da jujur
Mempunyai kesetiaan bersama pasien, akibat Kesetiaannya dalam Tuhan Allah. Ia harus menyadari bahwa Tuhan Allah yang memberi kemampuan -mela­lui urapan Roh-Nya sendiri- kepada seorang perawat sehingga mampu merawat orang lain atau pasien, Yes 61:1.11 Di dalam kenyataan ini seorang perawat telah menyerahkan dirinya ke dalam tangan Tuhan Allah, sehingga ia dapat bertugas dan bertanggungjawab pada pelayanannya sampai mati. Kemampuan dari Tuhan Allah tersebutlah yang menjadikan mereka -perawat sebagai pengasuh- setia dan mengikuti tuannya atau yang diasuh itu pergi, jadi ia ikut kemana saja (Kej 24:59), bahkan setia sampai mati bersama dengan yang diasuh (Kej 35:8). Ia menjadi sahabat dalam derita dan duka pasien. Mendengar hampir semua keluhan kemelut hidup pasien, bahkan -dalam keterbatasannya- ia berusaha membantu dan memberikan pertolongan.
  1. Merawat seperti melakukan terhadap diri sendiri, Ef 5:29.
Ia mampu melihat atau mengetahui apa yang orang lain tidak tahu. Kasihnya pada Tuhan Allah menjadikan ia mempunyai perhatian dan kasih sayang seperti seorang ibu kepada anaknya, 1 Tes 2:7. Dan juga ia merawat pasien, seperti melakukan terhadap diri sendiri, Ef 5:29. Ia tahu -walau­pun harus melalui diagnosa dokter- apa yang harus dikerjakan bagi kepentingan orang lain. Dengan pertimbangan dan diagnosa serta petun­juk dokter, ia harus mampu untuk bertindak dan memilih mana yang terbaik serta berguna bagi kepentingan pasien.
  1. Berani mengambil resiko
Berani mengambil resiko bagi dirinya, guna menolong orang lain, terutama bila wabah merajalela dan penyakit berbahaya mengancam. Ia tidak memperhitungkan keselamatan diri sendiri, namun berusaha agar orang lain bisa bebas dari penyakit dan ancaman malapetakan serta bahaya. Hal tersebut nampak dalam 2 Sam 4:4 dan 2 Raj 11:2. Pada keadaan bahaya, kacau, ia lebih mementingkan pasien dari diri sendiri, berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa pasien, membela pasien.


  • Kepustakaan terpilih
  • Brownlee, Malcolm., Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan, Jakarta:BPK, 1993
  • Camping, Harold, Feed My Sheep, New York:Presby. and Reformed Publ.Co, 1984
  • Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, Yogyakarta:Kanisius, 1991
  • Ensiklopedi Alkitab Masa Kini:M-Z, Jakarta:OMF, 1997
  • Hagin, Kenneth E., Healing Belong To Us, Tulsa:KH Ministries Inc., 1981
  • Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan:Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Ed 5, Jakarta:Erlangga 1993
  • Kushner, Harold S., Derita, Kutuk atau Rahmat, Yogyakarta:Kanisius, 1987
  • Nasution, Nancy, Kalau Saudara Sakit, Jakarta:BPK-GM, 1981
  • New Bible Dictionari 2nd Ed., Leicester:Inter-Varsity Press, 1982
  • Pellokila, Jappy M, Pengobatan atau Kesembuhan Ilahi (Skripsi B.Th.tidak diterbitkan), Ungaran-Semarang:STTh Abdiel, 1983
  • Tim Prasetia, Pendidikan Pastoral Klinis, Jakarta:PERSETIA, 1991
  • Sitompul, A.A., Manusia dan Budaya, Jakarta:BPK-GM, 1991
  • ten Napel, Henk., Jalan Yang Lebih Utama Lagi, Jakarta:BPK-GM, 1991
  • The New Compact Bible Dictionary, Grand Rapids-Michgan: Zondervan Publs.House,

End Notes
1 Disusun oleh .Jappy M Pellokila. Disampaikan kepada Mahasiswa/i Akademi Keperawatan Sismadi-Jakarta pada perkuliahan 108 -Agama Kristen-
2 Hipokrates memakai istilah ini untuk menunjuk pada tindakan seseorang atau tabib/dokter yang menyembuhkan serta menyelamatkan penderita sakit
3 Yes 53:5 band 1 Pet 2:24; Yes 6:10 band Kis 28:27 dan Mat 13:15 dipakai dalam rangka kesembuhan, penyembuhan rohani/spiritual
4 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini:M-Z, Jakarta:BPK-OMF 1997, hal. 370
5 Bandingkan hati sebagai tempat keinginan dan pikiran, I Taw 29:18, Yeh 18:31; Ginjal sebagai sumber penderitaan dan hasrat, Yer 12:12.
6 Alkitab tidak memberikan informasi tentang bagaimana para tenaga medis ini (tabib maupun bidan dan perawat) memperoleh pengetahuan, pengalaman dan kesanggupan tentang pengobatan, kebidanan, perawatan, penyembuhan,  dan lain-lain
7 Peranan mereka tidak bisa disamakan dengan "pembantu rumah tangga atau "baby sitter", yang dikenal sekarang
8 Selanjutnya lihat, The New Compact Bible Dictonary, Grand Rapids-Michigan:Zondervan Publishing House, 1977, hal. 413
9 Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai tenaga medis -dokter, perawat, dan lain-lain- dan pekerja sosial merupakan profesi yang menyenangkan, dan mempunyai tingkat kematian yang rendah, Selanjutnya lihat, A. Scheinfeld, Your Heredity and Environment, Philadelpia:Lippincott, 1965
10 Secara sederhana melalui refleksi ini saja, seorang tenaga medis dapat menolak permintaan pelaksanaan aborsi/abortus, Kel 1:15-21.
11 Ungkapan dalam Yes 61:1, memang secara khusus tidak ditujukan kepada para perawat. Akan tetapi melalui refleksi diri seorang perawat, ia mampu melihat bahwa "Tuhan Allah yang memberinya kemampuan untuk merawat pasien"

Sabtu, 12 November 2011

ALZHEIMER


 (ASKEP ALZHEIMER)

A.    KONSEP DASAR PENYAKIT ALZHEIMER
I.       DEFINISI
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang berusia 65 tahun keatas.
Alzheimer merupakan penyakit dengan gangguan degeneratif yang mengenai sel-sel otak dan menyebabkan gangguan fungsi intelektual, penyakit ini timbul pada pria dan wanita dan menurut dokumen terjadi pada orang tertentu pada usia 40 tahun (Keperawatan Medikal Bedah : jilid 1 hal 1003).

II.    EPIDEMIOLOGI
Di Amerika, sekitar 4 juta orang menderita penyakit ini. Angka prevalansi berhubungan erat dengan usia. Sekitar 10%  populasi diatas 65 tahun menderita penyakit ini. Bagi individu berusia diatas 85 tahun, angka ini meningkat sampai 47,2%. Dengan meningkatnya populasi lansia, maka penyakit alzheimer menjadi penyakit yang semakin bertambah banyak. Insiden kasus alzheimer meningkat pesat sehingga menjadi epidemi di Amerika dengan insiden alzheimer sebanyak 187 : 100.000 per tahun dan penderita alzheimer 123 : 100.000 per tahun.

III. PENYEBAB
Penyebab yang pasti belum diketahui. Beberapa alternative penyebab yang telah dihipotesa adalah intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi flament, predisposisi heriditer. Dasar kelainan patologi penyakit Alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal, kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kongnitif dengan penurunan daya ingat secara progresif. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium intraseluler, kegagalan metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau terdapat produksi protein abnormal yang non spesifik. Penyakit Alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika.
Penyebab yang pasti belum diketahui. Beberapa alternatif penyebab yang telah dihipotesa adalah intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri, trauma, neurotransmiter, defisit formasi sel-sel filament presdiposisi heriditer. Dasar kelainan patologi penyakit alzheimer terdiri dar degenerasi neuronal, kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif dengan penurunan daya ingat secara progresif.
Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan calcium intraseluler, kegagalan metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus factor genetika.
Patogenesa
Sejumlah patogenesa penyakit alzheimer yaitu:
1. Faktor genetik
Beberapa peneliti mengungkapkan 50% prevalensi kasus alzheimer ini diturunkan melalui gen autosomal dominant. Individu keturunan garis pertama pada keluarga penderita alzheimer mempunyai resiko menderita demensia 6 kali lebih besar dibandingkan kelompok kontrol normal Pemeriksaan genetika DNA pada penderita alzheimer dengan familial early onset terdapat kelainan lokus pada kromosom 21 diregio proximal logarm, sedangkan pada familial late onset didapatkan kelainan lokus pada kromosom 19. Begitu pula pada penderita down syndrome mempunyai kelainan gen kromosom 21, setelah berumur 40 tahun terdapat neurofibrillary tangles (NFT), senile plaque dan penurunan Marker kolinergik pada jaringan otaknya yang menggambarkan kelainan histopatologi pada penderita alzheimer. Hasil penelitian penyakit alzheimer terhadap anak kembar menunjukkan 40-50% adalah monozygote dan 50% adalah dizygote. Keadaan ini mendukung bahwa faktor genetik berperan dalam penyaki alzheimer. Pada sporadik non familial (50-70%), beberapa  ditemukan kelainan lokus kromosom 6, keadaan ini menunjukkan bahwa kemungkinan faktor lingkungan menentukan ekspresi genetika pada alzheimer.
2. Faktor infeksi
Ada hipotesa menunjukkan penyebab infeksi virus pada keluarga penderita alzheimer yang dilakukan secara immuno blot analisis, ternyata diketemuka adanya antibodi reaktif. Infeksi virus tersebut menyebabkan infeksi pada susunan saraf pusat yang bersipat lambat, kronik dan remisi. Beberapa penyakit infeksi seperti Creutzfeldt-Jacob disease dan kuru, diduga berhubungan dengan penyakit alzheimer. Hipotesa tersebut mempunyai beberapa persamaan antara lain:
a. manifestasi klinik yang sama
b. Tidak adanya respon imun yang spesifik
c. Adanya plak amyloid pada susunan saraf pusat
d. Timbulnya gejala mioklonus
e. Adanya gambaran spongioform
3. Faktor lingkungan
Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan dalam patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antar lain, aluminium, silicon, mercury, zinc. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang ditemukan neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque (SPINALIS). Hal tersebut diatas belum dapat dijelaskan secara pasti, apakah keberadaan aluminum adalah penyebab degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang tumpang tindih. Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidak seimbangan merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang belum jelas. Ada dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui reseptor N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler (Cairan-influks) danmenyebabkan kerusakan metabolisma energi seluler dengan akibat kerusakan dan kematian neuron.
4. Faktor imunologis
Behan dan Felman (1970) melaporkan 60% pasien yang menderitaalzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti penurunan albumin dan peningkatan alpha protein, anti trypsin alphamarcoglobuli dan haptoglobuli. Heyman (1984), melaporkan terdapat hubungan bermakna dan meningkat dari penderita alzheimer dengan penderita tiroid. Tiroid Hashimoto merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering didapatkanpada wanita muda karena peranan faktor immunitas
5. Faktor trauma
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit alzheimer dengan trauma kepala. Hal ini dihubungkan dengan petinju yang menderita demensia pugilistik, dimana pada otopsinya ditemukan banyak neurofibrillary tangles.
6. Faktor neurotransmitter
Perubahan neurotransmiter pada jaringan otak penderita Alzheimer mempunyai peranan
yang sangat penting seperti :
a)      Asetikolin
Barties et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas spesifik neurotransmitter dengan cara biopsy sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada penderita Alzheimer didapatkan penurunan aktivitas kolinasetil transferase, asetikolinesterase dan transport kolin serta penurunan biosintesa asetilkolin. Adanya deficit presinaptik kolinergik ini bersifat simetris pada korteks frontalis, temporalis superior, nucleus basalis, hipokampus. Kelainan neurotransmitter asetilkolin merupakan kelainan yang selalu ada dibandingkan jenis neurotransmitter lainnya pada penyakit Alzheimer, dimana pada jaringan otak/biopsy selalu didapatkan kehilangan cholinergic marker. Pada penelitian dengan pemberian scopolamine pada orang normal, akan menyebabkan berkurang atau hilangnya daya ingat. Hal ini sangat mendukung hipotesa kolinergik sebagai patogenesa penyakit Alzheimer.
b)      Noradrenalin
Kadar metabolism norepinefrin dan dopamine didapatkan menurun pada jaringan otak penderita Alzheimer. Hilangnya neuron bagian dorsal lokus seruleus yang merupakan tempat yang utama noradrenalin pada korteks serebri, berkolerasi dengan deficit kortikal noradrenergik.
Bowen et al (1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita Alzheimer menunjukan adanya defesit noradrenalin pada presinaptik neokorteks. Palmer et al (1987),Reinikanen (1988), melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post dan ante-mortem penderita Alzheimer.

c)      Dopamine
Sparks et al (1988), melakukan pengukuran terhadap aktivitas neurotransmitter region hypothalamus, dimana tidak adanya gangguan perubahan akivitas dopamine pada penderita Alzheimer. Hasil ini masih controversial, kemungkinan disebabkan karena histopatologi region hypothalamus setia penelitian bebeda-beda.
d)     Serotonin
Didapatkan penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme 5 hidroxi-indolacetil acil pada biopsy korteks serebri penderita Alzheimer. Penurunan juga didapat pada subregio hipotalamus sangat bervariasi, pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus sedangkan pada posterior peraventrikuler hipotalamus berkurang sangat minimal. Perubahan kortikal serotonergik ini beghubungan dengan hilangnya neuron-neuron dan diisi oleh formasi NFT pada nucleus rephe dorsalis
e)      MAO (manoamin oksidase)
Enzim mitokondria MAO akan mengoksidasi transmitter monoamine. Akivitas normal MAO A untuk deaminasi serotonin, norepinefrin, dan sebagian kecil dopamine, sedangakan MAO-B untuk deaminasi terutama dopamine. Pada penderita Alzheimer, didapatkan peningkatan MAO A pada hipotalamus dan frontalis sedangakan MAO-B pada daerah temporal dan menurun pada nucleus basalis dari meynert.


IV. PATOFISIOLOGI
Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai pada penyakit Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron yang tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid, bagian dari suatu protein besar, protein prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron tersebut terjadi secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak.
Secara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah intracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan morfologik (structural) dan biokimia pada neuron – neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit. Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein “tau”.  Dalam SSP, protein tau sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau, secara kimia menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara bersama – sama. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks ganda yang sekelilingnya masing – masing terluka. Dengan kolapsnya system transport internal, hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel.  Pembentukan neuron yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer.
Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta) yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal. A-beta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron. APP terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh protease, salah satunya A-beta, fragmen lengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan tersebut akhirnya bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril – fibril plak yang membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh. Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas sehingga menggagu hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan makin rentannya neuron terhadap stressor.
Selain karena lesi, perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Secara neurokimia kelainan pada otak

V.    KLASIFIKASI
Terdapat 2 tipe Alzheimer (AD) yaitu:
1)      AD familial (FAD) yang mengikuti pola bawaan khusus
2)      AD sporadic yang tidak mengikuti pola bawaan.

VI.  GEJALA KLINIS
Pada stadium awal Alzheimer, terjadi keadaan mudah lupa dan kehilangan ingatan ringan. Terdapat kesulitan ringan dalam aktivitas pekerjaan dan social. Depresi dapat terjadi pada saat ini. Pasien dapat kehilangan kemampuannya mengenali wajah, tempat, dan objek yang sudah dikenalnya. Pasien juga sering mengulang-ulang cerita yang sama karena lupa telah menceritakannya. Kemampuan berbicara memburuk sampai pembentukan suku kata yang tidak masuk akal, agitasi, dan peningkatan aktivitas fisik. Nafsu makan pun bertambah secara berlebihan. Terjadi pula disfagia dan inkontinensia. Pasien dapat menjadi depresif, curiga, paranoid, dan kasar(perubahan kepribadian).

  1. Gejala ringan (lama penyakit 1-3 tahun)
Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari
Disorientasi : tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik
Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin
Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian, misalnya mudah tersinggung, mudah menuduh ada yang mengambil barangnya, bahkan menuduh pasangannya selingkuh

  1. Gejala sedang(lama penyakit 3-10 tahun)
Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari seperti makan dan mandi
Perubahan tingkah laku, misalnya sedíh dan emosi
Mengalami gangguan tidur
Keluyuran
Kesulitan mengenali keluarga dan teman(pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang yang paling jarang ditemuinya, mulai dari nama ingá tidak mengenali wajah sama sekali, kemudian bertahap kepada orang-orang yang cukup jarang ditemui)

  1. Gejala berat(lama penyakit 8-12 tahun)
Sulit atau kehilangan kemampuan bicara
Sangat tergantung pada caregiver(pengasuh)
Perubahan perilaku : misalnya mudah curiga, depresi, atau mudah mengamuk

VII.        PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Klien dengan penyakit Alzheimer umumnya mengalami penurunan kesadaran sesuai dengan degenerasi neuron kolinergik dan proses senilisme. Adanya perubahan pada tanda vital meliputi bradikardi, hipotensi dan penurunan frekuensi pernapasan.
B1 (breathing)
Gangguan fungsi pernapasan berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivasi, aspirasi makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas.
Inspeksi : didapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak napas, dan penggunaan otot bantu napas.
Palpasi : taktil premitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
B2 (blood)
Auskultasi : Hipotensi postural berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan pada pengatruan tekanan darah oleh system saraf otonom.
B3 (brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap dibandingkan system lainnya.
Inspeksi umum didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan tingkah laku.
Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada perubahan status kognitif klien.



Pemeiksaan Fungsi Serebri
Status mental : biasanya status mental klien mengalami perubahan yang berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan penurunan motorik baik jangka pendek maupun memori jangka panjang.
Pemeriksaan saraf krnial
*   Nervus I : biasanya pada klien dengan penyakit Alzheimer tidak ada kelainan dari fungsi penciuman.
*   Nervus II : hasil tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan sesuai tingkat usia. Klien dengan penyakit alzheirmer mengalami penurunan ketajaman penglihatan.
*   Nervus III,IV,VI : Pada beberapa kasus penyakit Alzheimer  biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada nervus ini
*   Nervus V : Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada nervus ini.
*   Nervus VII : Persepsi pengecapan dalam batas normal
*   Nervus VIII : Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi berhubungan dengan proses senilis dan penurunan aliran darah regional
*   Nervus IX dan X : Didapatkan kesulitan dalam menelan makanan yang berhubungan dengan perubahan status kognitif
*   Nervus XI: Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapesius
*   Nervus XII: Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada faskulasi. Indra pengecapan normal.
Sistem motorik
Inspeksi umum pada tahap lanjut klien akan mengalami perubahan pada fungsi motorik secara umum.
Palpasi :Tonus otot didapatkan meningkat.
Inspeksi : Keseimbangan dan koordinasi, didapatkan mengalami gangguan karena adanya perubahan status kognitif dan ketidakoperatifan klien dengan metode pemeriksaan.
Pemeriksaan Refleks
Pada tahap lanjut penyakit Alzheimer, sering didapatkan bahwa klien kehilangan refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri klien akan berdiri dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong. Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke depan atau ke belakang) dapat menimbulkan sering jatuh.
Sistem Sensorik
Sesuai berlanjutnya usia, klien dengan penyakit Alzheimer mengalami penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensorik yang ada merupakan hasil dari neuropati perifer yang dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum.

B4 (Bladder)
Inspeksi : Pada tahap lanjut, beberapa klien sering berkemih tidak pada tempatnya , biasanya yang berhubungan dengan penurunan status kognitif pada klien Alzheimer. Penurunan refleks kandung kemih yang bersifat progresif dan klien mungkin mengalami inkontinensia urine, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril.

B5 (Bowel)
Inspeksi :Pemenuhan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang karena kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Karena penurunan aktivitas umum, klien sering mengalami konstipasi.

B6(Bone)
Inspeksi : Pada tahap lanjut biasanya didapatkan adanya kesulitan untuk  beraktivitas karena kelemahan umum dan penurunan status kognitif menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan pemenuhan aktivitas sehari-hari. Adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan disebabkan karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan akan memberikan risiko pada trauma fisik bila melakukan aktivitas.



VIII.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.         Neuropatologi
Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Secara umum didapatkan atropi yang bilateral, simetris, sering kali berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr). Beberapa penelitian mengungkapkan atropi lebih menonjol pada lobus temporoparietal, anterior frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik tetap utuh (Jerins, 1937). Kelainan-kelainan neuropatologi pada penyakit alzheimer terdiri dari:
a.    Neurofibrillary tangles (NFT)
Merupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari filamen-filamen abnormal yang berisi protein neurofilamen, ubiquine, epitoque. NFT ini  juga terdapat pada neokorteks, hipokampus, amigdala, substansia alba, lokus seruleus, dorsal raphe dari inti batang otak. NFT selain didapatkan pada penyakit alzheimer, juga ditemukan pada otak manula, down syndrome, parkinson, SSPE, sindroma ektrapiramidal, supranuklear palsy. Densitas NFT berkolerasi dengan beratnya demensia.
b.    Senile plaque (SP)
Merupakan struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi nerve ending yang berisi filamen-filamen abnormal, serat amiloid ektraseluler, astrosit, mikroglia. Amloid prekusor protein yang terdapat pada SP  sangat berhubungan dengan kromosom 21. Senile plaque ini terutama terdapat pada neokorteks, amygdala, hipokampus, korteks piriformis, dan sedikit didapatkan pada korteks motorik primer, korteks somatosensorik, korteks visual, dan auditorik. Senile plaque ini juga terdapat pada jaringan perifer. Perry (1987) mengatakan densitas Senile plaque berhubungan dengan penurunan kolinergik. Kedua gambaran histopatologi (NFT dan senile plaque) merupakan gambaran karakteristik untuk penderita penyakit alzheimer.  
c.    Degenerasi neuron
Pada pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada penyakit alzheimer sangat selektif. Kematian neuron pada neokorteks terutama didapatkan pada neuron piramidal lobus temporal dan frontalis. Juga ditemukan pada hipokampus, amigdala, nukleus batang otak termasuk lokus serulues, raphe nukleus dan substanasia nigra. Kematian sel neuron kolinergik terutama pada nukleus basalis dari meynert, dan sel noradrenergik terutama pada lokus seruleus serta sel serotogenik pada nukleus raphe dorsalis, nukleus tegmentum dorsalis. Telah ditemukan faktor pertumbuhan saraf pada neuron kolinergik yang berdegenerasi pada lesi eksperimental binatang dan ini merupakan    harapan dalam pengobatan penyakit alzheimer.
d.   Perubahan vakuoler
Merupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk oval dan dapat menggeser nukleus. Jumlah vakuoler ini berhubungan secara bermakna dengan jumlah NFT dan SP , perubahan ini sering didapatkan pada korteks temporomedial, amygdale, dan insula. Tidak pernah ditemukan pada korteks frontalis, parietal, oksipital, hipokampus, serebelum dan batang otak.  
e.    Lewy body
Merupakan bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada enterhinal, gyrus cingulate, korteks insula, dan amygdala. Sejumlah kecil pada korteks frontalis, temporal, parietalis, oksipital. Lewy body kortikal ini sama dengan immunoreaktivitas yang terjadi pada lewy body batang otak pada gambaran histopatologi penyakit parkinson. Hansen et al menyatakan lewy body merupakan variant dari penyakit alzheimer.
                                          
2.         Pemeriksaan Neuropsikologik
Penyakit alzheimer selalu menimbulkan gejala demensia. Fungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan fungsi kognitif umum danmengetahui secara rinci pola defisit yang terjadi. Test psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa. Evaluasi neuropsikologis yang sistematik mempunyai fungsi diagnostik yang penting karena: 
a.       Adanya defisit kognisi yang berhubungan dgndemensia awal yang dapat  diketahui bila terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat penuaan yang normal.
b.      Pemeriksaan neuropsikologik secara komprehensif memungkinkan untuk  membedakan kelainan kognitif pada global demensia dengan defisit  selektif yang diakibatkan oleh disfungsi fokal, faktor metabolik, dan gangguan psikiatri.
c.       Mengidentifikasi gambaran kelainan neuropsikologik yang diakibatkan oleh demensia karena berbagai penyebab. The Consortium to establish a Registry for Alzheimer Disease (CERALD) menyajikan suatu prosedur penilaian neuropsikologis dengan mempergunakan alat batrey yang bermanifestasi gangguan fungsi kognitif, dimana pemeriksaannya terdiri dari:
ü    Verbal fluency animal category
ü    Modified boston naming test
ü    Mini mental state
ü    Word list memory
ü    Constructional praxis
ü    Word list recall
ü    Word list recognition
                  Test ini memakn waktu 30-40 menit dan <20-30 menit pada control.

3.         CT Scan dan MRI
Merupakan metode non invasif yang beresolusi tinggi untuk melihat kwantifikasi perubahan volume jaringan otak pada penderita alzheimer antemortem. Pemeriksaan ini berperan dalam menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain alzheimer seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh danpembesaran ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini. Tetapi gambaran ini juga didapatkan pada demensia lainnya seperti multiinfark, parkinson, binswanger sehingga kita sukar untuk membedakan dengan penyakit alzheimer. Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan beratnya gejala klinik danhasil pemeriksaan status mini mental. Pada MRI ditemukan peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler (Capping anterior horn pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan predileksi untuk demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii. Seab et al, menyatakan MRI lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus. 

4.         EEG
Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik.
 
5.         PET (Positron Emission Tomography)
Pada penderita alzheimer, hasil PET ditemukan penurunan aliran darah, metabolisma O2, dan glukosa didaerah serebral. Up take I.123 sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan kelainan  fungsi kognisi danselalu dan sesuai dengan hasil observasi penelitian neuropatologi.

6.         SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography)
Aktivitas I. 123 terendah pada refio parieral penderita alzheimer. Kelainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. Kedua pemeriksaan ini (SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin.

7.         Laboratorium Darah
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita alzheimer. Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12, Calsium, Posfor, BSE, fungsi renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis, skreening antibody yang dilakukan secara selektif.

  
IX.  KRITERIA DIAGNOSIS
Terdapat beberapa kriteria untukdiagnosa klinis penyakit alzheimer yaitu:
1)      Kriteria diagnosis tersangka penyakit alzheimer terdiri dari:
*      Demensia ditegakkan dengan pemeriksaan klinik dan pemeriksaan status mini mental atau beberapa pemeriksaan serupa, serta dikonfirmasikan dengan test neuropsikologik
*      Didapatkan gangguan defisit fungsi kognisi >2
*      Tidak ada gangguan tingkat kesadaran
*      Awitan antara umur 40-90 tahun, atau sering >65 tahun
*      Tidak ada kelainan sistematik atau penyakit otak lainnya
2)      Diagnosis tersangka penyakit alzheimer ditunjang oleh:
*      Perburukan progresif fungsi kognisi spesifik seperti berbahasa, ketrampilan motorik, dan persepsi
*      ADL terganggu dan perubahan pola tingkah laku
*      Adanya riwayat keluarga, khususnya kalau dikonfirmasikan dengan neuropatologi
*      Pada gambaran EEG memberikan gambaran normal atau perubahan non spesifik seperti peningkatan aktivitas gelombang lambat
*      Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan atropu serebri
3)      Gambaran lain tersangka diagnosa penyakit alzheimer setelah dikeluarkan penyebab demensia lainnya terdiri dari:
*      Gejala yang berhubungan dengan depresi, insomnia, inkontinentia, delusi, halusinasi, emosi, kelainan seksual, berat badan menurun
*      Kelainan neurologi lain pada beberapa pasien, khususnya penyakit pada stadium lanjut dan termasuk tanda-tanda motorik seperti peningkatan tonus otot, mioklonus atau gangguan berjalan
*      Terdapat bangkitan pada stadium lanjut
4)      Gambaran diagnosa tersangka penyakit alzheimer yang tidak jelas terdiri dari:
*      Awitan mendadak
*      Diketemukan gejala neurologik fokal seperti hemiparese, hipestesia, defisit lapang pandang dan gangguan koordinasi
*      Terdapat bangkitan atau gangguan berjalan pada saat awitan
5)      Diagnosa klinik kemungkinan penyakit alzheimer adalah:
*      Sindroma demensia, tidak ada gejala neurologik lain, gejala psikiatri atau kelainan sistemik yang menyebabkan demensia
*      Adanya kelainan sistemik sekunder atau kelainan otak yang menyebabkan demensia, defisit kognisi berat secara gradual progresif yang diidentifikasi tidak ada penyebab lainnya
6)      Kriteria diagnosa pasti penyakit alzheimer adalah gabungan dari kriteria klinik tersangka penyakit alzheimer didapatkan gambaran histopatologi dari biopsi atau otopsi.


X.    TINDAKAN PENANGANAN
Pengobatan penyakit alzheimer masih sangat terbatas oleh karena  penyebab dan patofisiologis masih belun jelas. Pengobatan simptomatik dan  suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dankeluarga.  Pemberian obat stimulan, vitamin B, C, dan E belum mempunyai efek yang menguntungkan.
A.    Penatalaksanaan Medikamentosa
1. Inhibitor kolinesterase
Beberapa tahun terakhir ini, banyak peneliti menggunakan inhibitor untuk pengobatan simptomatik penyakit alzheimer, dimana penderita alzheimer didapatkan penurunan kadar  asetilkolin. Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase yang bekerja secara sentral seperti fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine). Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori danapraksia selama pemberian berlangsung. Beberapa peneliti menatakan bahwa obat-obatan anti kolinergik akan memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan penderita alzheimer.
2. Thiamin
Penelitian telah membuktikan bahwa pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase (45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nukleus basalis. Pemberian thiamin hydrochlorida dengan dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral, menunjukkan perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama.
 3. Nootropik
Nootropik merupakan obat psikotropik, telah dibuktikan dapat memperbaiki fungsi kognisi dan proses belajar pada percobaan binatang. Tetapi pemberian 4000 mg pada penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna.
 4. Klonidin
Gangguan fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan noradrenergik kortikal. Pemberian klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alfa 2 reseptor agonis dengan dosis maksimal 1,2 mg peroral selama 4 minggu, didapatkan hasil yang kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif
5. Haloperiodol
Pada penderita alzheimer, sering kali terjadi gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan tingkah laku. Pemberian oral Haloperiod 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki gejala tersebut. Bila penderita alzheimer menderita depresi sebaiknya diberikan tricyclic anti depresant (amitryptiline 25-100 mg/hari).
6.  Acetyl L-Carnitine (ALC)
Merupakan suatu subtrate endogen yang disintesa didalam miktokomdria dengan bantuan enzym ALC transferase. Penelitian ini menunjukkan bahwa ALC dapat meningkatkan aktivitas asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase. Pada pemberian dosis 1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan, disimpulkan bahwa dapat memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif.
B.     Penatalaksanaan Non-Medikamentosa
1.      Mendukung Fungsi Kognitif.
Karena kemampuan kognitif menurun, maka perawat harus memberikan lingkungan yang mudah dikenali yang dapat membantu pasien mengintegrasikan lingkungan sekitar dan aktifitasnya.
2.      Peningkatan Keamanan Fisik
Umtuk menghindari jatuh atau kecelakaan lain, semua sumber bahaya yang jelas harus dihilangkan. Lampu tidur, lampu pemanggil, dan tempat tidur rendah digunakan saat tidur. Lingkungan yang bebas bahaya memungiknkan pasien mandiri secara maksimal dan memiliki rasa otonomi.
3.      Mengurangi ansietas dan agitasi
Meskipun kehilangan kognitifnya parah,namun ada saat dimana pasien sadar akan cepat menhilangkan kemampuannya. Pasien menjadi sangat membutuhksn dukungan emosional yang dapat memperkuat citra diri yang positif.
4.      Meningkatkan Komunikasinya
Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada kesulitan mengorganisai dan menyampaikan pikiran. Instruksi yang berurutan dan sederhana dipakai untuk mengingatkan pasien dan sangat membantu pasien.
5.      Meningkatkan kemandirian dalam Proses Perawatan diri
Upaya ditujukan untuk membantu pasien memelihara fungsi kemandirian selama mungkin. Dianjurkan menyederhanakan aktifitas sehari-hari dengan menyusun lamgkah-langkah singkat dan mudah dicapai sehingga pasien dapat merasakan kepuasan diri.
6.      Menyediakan Kebutuhan sosialisasi dan keintiman
Karena sosialisasi dengan teman lama dapat meyenagnkan maka pasien didorong untuk melakukan kunjungan, saling berkirim surat, dan bertelepon. Kunjungan sebaiknya singkat dan tidak menimbulkan stress. Sebaiknya hanya menungunjungi satu sampai dua orang saja dalam sekali kunjungan.
7.      Meningktkan nutrisi yang adekuat
Saat makan, keadaan harus tetap dijaga agar keadaan tidak menjadi konfrontasional. Pasien lebih menyukai makanan yangsudah dikenal yang tampak menggunakan selera makan dan tersa lezat. Untuk menghindari bermain dengan makanan, makanan sebaiknya dihidangkan satu-satu.makanan sebaiknya dipotong kecil-kecil agar tidak tersedak. Makanan sebaiknya disediakan dalam keadaan hangat.
8.      Mendukung dan mendidik pemberi perawatan dalam keluarga.
Perawat harus peka terhadap masalah emosional yang dihadapi keluarga. Dukungan dan edukasi pemberi perawatan merupakan komponen yang penting.

B.     KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1.      PENGKAJIAN
Adapun pengkajian yang dilakukan pada penyakit Alzheimer

Aktifitas istirahat
Gejala :  Merasa lelah
Tanda :  Siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur
Letargi : penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa, hobi, ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/ mengikuti acara program televisi.
Gangguan keterampilan motorik, ketidakmampuan untuk melakukan hal yang telah biasa yang dilakukannya, gerakan yang sangat bermanfaat.

Sirkulasi
Gejala : Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik. hipertensi, episode emboli (merupakan factor predisposisi).

Integritas ego
Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan, kesalahan persepsi terhadap lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang, penimbunan objek : meyakini bahwa objek yang salah penempatannya telah dicuri. kehilangan multiple, perubahan citra tubuh dan harga diri yang dirasakan.
Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak mampu untuk melakukan kewajiban, mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa membacanya) , duduk dan menonton yang lain, aktivitas pertama mungkin menumpuk benda tidak bergerak dan emosi stabil, gerakan berulang ( melipat membuka lipatan melipat kembali kain ), menyembunyikan barang, atau berjalan-jalan.


Eliminasi
Gejala : Dorongan berkemih
Tanda : Inkontinensia urine/feaces, cenderung konstipasi/ imfaksi dengan diare.

Makanan/cairan
Gejala : Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor predisposisi)  perubahan dalam pengecapan, nafsu makan, kehilangan berat badan, mengingkari terhadap rasa lapar/ kebutuhan untuk makan.
Tanda  :   Kehilangan kemampuan untuk mengunyah, menghindari/menolak makan (mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan). dan tampak semakin kurus (tahap lanjut).

Higene
Gejala : Perlu bantuan /tergantung orang lain
Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan, kebiasaan personal yang kurang, kebiasaan pembersihan buruk, lupa untuk pergi kekamar mandi, lupa langkah-langkah untuk buang air, tidak dapat menemukan kamar mandi dan kurang berminat pada atau lupa pada waktu makan: tergantung pada orang lain untuk memasak makanan dan menyiapkannya dimeja, makan, menggunakan alat makan.

Neurosensori
Gejala :   Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif,
dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondria tentang kelelahan, diarea, pusing atau kadang-kadang sakit kepala. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif, mengambil keputusan, mengingat yang berlalu, penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh orang terdekat). Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau bagian  tubuh dalam ruang tertentu ). dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/sistemik, emboli atau hipoksia yang berlangsung secara periodic ( sebagai factor predisposisi ) serta aktifitas kejang ( merupakan akibat sekunder  pada kerusakan otak ).
Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia; kesulitan dalam menemukan kata- kata yang benar ( terutama kata benda ); bertanya berulang-ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak memiliki arti; terpenggal-penggal, atau bicaranya tidak terdengar. Kehilangan kemampuan untuk membaca dan menulis bertahap ( kehilangan keterampilan motorik halus ).

Kenyamanan
Gejala :  Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi factor predisposisi atau factor akselerasinya), trauma kecelakaan ( jatuh, luka bakar dan sebagainya).
Tanda : Ekimosis, laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang lain

Interaksi social
 Gejala : Merasa kehilangan kekuatan. factor psikososial sebelumnya; pengaruh personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah laku yang muncul.
Tanda : Kehilangan control social,perilaku tidak tepat.

2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
a.      Perubahan proses pikir berhubungan dengan degeneration neuron iriversibel ditandai dengan tidak mampu mengintrepitasikan stimuli dan menilai realitas dengan akurat, disorientasi, apatis, loss deep memory, dan kesulitan dalam  mengamodasikan ide/ perintah.
b.     Hambatan interaksi social berhubungan dengan hambatan komunikasi sekunder akibat penyakit mental kronis ditandai dengan afasia, rasa bermusuhan/menyerang orang, kehilangan control social, dan perilaku tidak tepat.
c.      Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan iskemia lobus temporal atau frontal sekunder akibat penyakit Alzheimer ditandai dengan afasia dan disfasia.
d.     Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit kognitif ditandai dengan klien tampak kotor dan bau, klien tampak lemah, klien tampak kurus, klien tampak pucat.
e.      Risiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi memori.

3.      INTERVENSI KEPERAWATAN
a.       Menyusun prioritas
1)      Perubahan proses pikir berhubungan dengan degeneration neuron iriversibel ditandai dengan  tidak mampu mengintrepitasikan stimuli dan menilai realitas dengan akurat, disorientasi, apatis, loss deep memory, dan kesulitan dalam  mengakomodasikan ide/ perintah,.
2)      Risiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi memori.
3)      Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit kognitif ditandai dengan klien tampak kotor dan bau, klien tidak mampu untuk melakukan proses perawatan diri, klien tampak lemah, klien tampak kurus, klien tampak pucat.
4)      Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan iskemia lobus temporal atau frontal sekunder akibat penyakit Alzheimer ditandai dengan afasia dan disfasia.
5)      Hambatan interaksi social berhubungan dengan hambatan komunikasi sekunder akibat penyakit mental kronis ditandai dengan afasia, rasa bermusuhan/menyerang orang, kehilangan control social, dan perilaku tidak tepat



b.    Intervensi

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan / Out come
Intervensi
Rasional
1.
Perubahan proses pikir berhubungan dengan degeneration neuron iriversibel ditandai dengan  tidak mampu mengintrepitasikan stimuli dan menilai realitas dengan akurat, disorientasi, apatis, loss deep memory, dan kesulitan dalam  mengakomodasikan ide/ perintah
Setelah diberikan askep selama x24  jam diharapkan gangguan proses pikir tidak bertambah buruk, dengan out come :
·         Klien mampu menginterpretasikan stimulus sedikit demi sedikit
·         Klien mampu mengakomodasikan sedikit demi sedikit suatu ide/perintah
·         Klien mampu mengenali orang-orang terdekatnya, seperti nama keluarganya.
·         Klien mampu mengenali tempat-tempat disekitarnya, seperti alamat rumah.
·         Klien mampu mengenali waktu seperti pagi, siang, dan malam.
Mandiri
-   Kaji tingkat gangguan kognitif seperti perubahan orientasi terhadap orang, tempat dan waktu, rentang, perhatian, kemampuan berpikir. Bicarakan dengan orang terdekat mengenai perubahan tingkah laku yang biasa /lamanya masalah yang telah ada.
-   Pertahankan lingkungan yang tenang dan menyenangkan.



-   Gunakan kata-kata yang pendek dan kalimat yang sederhana dan berikan instruksi sederhana (tahap demi tahap). ulangi instruksi tersebut sesuai dengan kebutuhan.



-   Dengarkan dengan penuh perhatian isi dari bicara pasien. Interpretasikan pernyataan, arti dan kata-kata tersebut. jika memungkinkan, berikan kata-kata yang benar.
-   Hindari kritikan, argumentasi dan konfrontasi negative (stimulasi provokasi )





-   Gunakan distraksi. bicarakan mengenai orang dan kejadian yang sebenarnya ketika pasien mulai merenungkan ide-ide yang salah, jika hal tersebut tidak meningkatkan kecemasan/agitasi.

-   Hindari pasien dari aktivitas dan komunikasi yang dipaksakan.



-   Ciptakan aktivitas yang sederhana dan tidak bersifat kompetitif yang didasarkan pada kemampuan individu.
-   Evaluasi pola dan kecukupan tidur/istirahat. catat adanya letargi, peningkatan peka rangsang, sering “menguap”, adanya garis hitam dibawah mata.

Kolaborasi
-   Antisiklotik, seperti haloperidol (haldol); tioridazin (Mallril)












-   Vasodilator, seperti siklandelat (Cyclospasmol)


-   Titamin
Mandiri
-   Memberikan dasar untuk evaluasi/perbandingan yang akan dating dan mempengaruhi pilihan terhadap intervensi.






-   Kebisingan, keramaian, orang banyak biasanya merupakan sensori yang berlebihan yang meningkatkan gangguan neuron.
-   Sesuai dengan berkembangnya penyakit, pusat komunikasi dalam otak mungkin saja terganggu yang menghilangkan kemampuan individu pada proses penerimaan pesan dan percakapan secara keseluruhan.
-   Mengarahkan perhatian dan penghargaan pada individu. Membantu pasien dengan alat bantu proses kata dalam menurunkan frustasi.

-   Provokasi menurunkan harga diri dan mungkin diartikan sebagai satu ancaman yang mencetuskan agitasi atau meningkatkan tingkah laku yang tidak pantas.
-   Lamunan membantu dalam meningkatkan disorientasi. orientasi pada realita meningkatkan perasaan realita pasien, penghargaan diri dan kemuliaan personal (kebahagiaan personal).
-   Keterpaksaan menurunkan keikutsertaan pasien dan mungkin juga dapat meningkatkan kecurigaan, delusi.

-   Memotivasi pasien dalam cara yang menguatkan kegunaannya dan kesenangan diri dan merangsang realita.
-   Kekurangan tidur dapat mengganggu proses berpikir dan kemampuan koping klien.





Kolaborasi
-   Dapat digunakan untuk mengontrol agitasi, halusinasi. Mallril jarang digunakan karena adanya beberapa efek samping yang bersifat ekstrapiramidal, meningkatkan kekacauan mental; masalah penglihatan dan terutama gangguan berdiri dan berjalan.
-   Dapat meningkatkan kesadaran mental tetapi memerlukan penelitian lebih lanjut.
-   Dalam penelitian merupakan cara yang dilakukan terus menerus untuk menyelidiki kemanfaatan dari tiamin dosis tinggi selama fase awal penyakit untuk memperlambat berkembangnya gangguan/meningkatan keadaan kognisi secara sederhana
2.
Risiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi memori.
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x 24 jam, diharapkan klien tidak mengalami cedera.
Mandiri
-     Awasi klien secara ketat selama beberapa malam pertama.
-    Anjurkan individu untuk meminta bantuan selama malam hari.
-    Singkirkan benda-benda berbahaya dari klien.

-    Pasang pegangan tangan di kamar mandi.
-    Pertimbangkan penggunaan sistem alarm.

Mandiri
-      Untuk mengkaji keamanan klien.

-      Untuk menghindarkan risiko cedera akbat suasana gelap.
-      Untuk menghindari risiko cedera/terpapar benda-benda berbahaya.
-      Untuk menghindari terpleset di kamar mandi.
-      Untuk memudahkan klien menginstruksikan keadaan bahaya pada dirinya.
3.
Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit kognitif ditandai dengan klien tampak kotor dan bau, klien tidak mampu untuk melakukan proses perawatan diri, klien tampak lemah, klien tampak kurus, klien tampak pucat.
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x 24 jam, diharapkan  terdapat perilaku peningkatan dalam pemenuhan perawatan diri dengan kriteria hasil :
·         klien tampak bersih dan segar
·         klien tidak pucat.
Mandiri
-   Identifikasi kesulitan berpakaian/perawatan diri, seperti keterbatasan fisik; apatis/depresi atau temperatur ruangan.
-   Identifikasi kebutuhan akan kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan perawatan rambut/kuku/kulit, bersihkan kacamata dan gosok gigi.

-   Gabungkan kegiatan sehari-hari kedalam jadwal aktivitas jika mungkin.



-   Kaji kemampuan dan tingkat itaspenurunan kemampuan ADL dalam skala 0 – 4.

-   Rencanakan tindakan untuk defisit motorik seperti tempatkan makanan dan peralatan di dekat klien agar mampu sendiri mengambilnya.
-   Kaji kemampuan komnikasi untuk BAK. Kemampuan menggunakan urinal pispot. Antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan .

-   Identifikasi kebiasaan BAB . anjurkan minum dan meningkatkan aktivitas.
Kolaborasi :
-   Pemberian suppositoria dan pelumas faeces / pencahar.
-   Konsul ke dokter terapi okupasi.
Mandiri
-   Memahami penyebab yang mempengaruhi pilihan intervensi/ strategi


-   Sesuai dengan perkembangan penyakit, kebutuhan akan kebersihan dasar mungkin dilupakan.



-   Mempertahankan kebutuhan rutin dapat mencegah kebingungan yang semakin memburuk dan meningkatkan partisipasi pasien.
-   Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual.
-   Klien akan mampu melakukan aktivitas sendiri untuk memenuhi perawatan dirinya.


-   Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengososngan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik.
-   Meningkatkan latihan dan menolong mencegah konstipasi

Kolaborasi :
-   Pertolongan utama terhadap fungsi bowell atau BAB

-   Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.
4.
Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan iskemia lobus temporal atau frontal sekunder akibat penyakit Alzheimer ditandai dengan afasia dan disfasia
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, diharapkan klien tidak mengalami hambatan komunikasi verbal dengan kriteria hasil :
·         Membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi
Mandiri
-   Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi.


-   Menentukan cara-cara berkomunikasi seperti mempertahankan kontak mata, pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, menggunakan kertas dan pensil/bolpoint, gambar, atau papan tulis; bahasa isyarat, penjelas arti dari komunikasi yang disampaikan.
-   Letakkan bel/lampu panggilan di tempat mudah dijangkau dan berikan penjelasan cara menggunakannya. Jawab panggilan tersebut dengan segera. Penuhi kebutuhan klien. Katakan kepada klien bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan.
-   Kolaborasi dengan
ahli wicara bahasa.
Mandiri
-     Untuk menentukan tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi.
-     Untuk membantu proses berkomunikasi dengan klien, dan agar tidak terjadi miskomunikasi.







-     Untuk memudahkan klien dalam memanggil perawat saat membutuhkan bantuan.







-     Memberikan terapi bicara pada klien.
5.
Hambatan interaksi social berhubungan dengan hambatan komunikasi sekunder akibat penyakit mental kronis ditandai dengan afasia, rasa bermusuhan/menyerang orang, kehilangan control social, dan perilaku tidak tepat
Setelah diberikan Asuhan Keperawatan selama ….x24 jam, diharapkan kliem mampu melakukan interaksi social, dengan out come :
·      klien mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya dengan baik.
·      klien tidak memiliki rasa bermusuhan/menyerang orang.
Mandiri
-   Beri individu hubungan suportif.


-   Bantu mengidentifikasi alternative tindakan.

-   Bantu menganalisis pendekatan yang berfungsi paling baik.

-   Gunakan pertanyaan dan observasi untuk mendorong individu dengan keterbatasan keterampilan interaksi




-   Bantu anggota keluarga dalam memahami dan memberi dukungan.
Mandiri
-     Agar individu terstimulasi untuk melakukan interaksi social.
-     Agar klien mampu mengidentifikasi tindakan yang baik.
-     Agar klien mampu melakukan interaksi dengan orang lain dengan baik.
-     Untuk merangsang klien untuk menjawab pertanyaan perawat secara tidak langsung menstimulasi klien untuk berinteraksi.
-     Dukungan keluarga sangat membantu dalam melakukan interaksi social.


4.      EVALUASI
No. Dx
Diagnosa Keperawatan
Evaluasi
1.
Perubahan proses pikir berhubungan dengan degeneration neuron iriversibel.
Proses pikir klien tidak bertambah buruk :
·         Klien mampu menginterpretasikan stimulus sedikit demi sedikit
·         Klien mampu mengakomodasikan sedikit demi sedikit suatu ide/perintah
·         Klien mampu mengenali orang-orang terdekatnya, seperti nama keluarganya.
·         Klien mampu mengenali tempat-tempat disekitarnya, seperti alamat rumah.
·     Klien mampu mengenali waktu seperti pagi, siang, dan malam.
2.
Risiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi memori.
Tidak terjadi cedera.
3.
Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit kognitif.
Sindrom defisit perawatan diri teratasi:
·       Klien tampak bersih dan segar
·      Klien tidak pucat.
4.
Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan iskemia lobus temporal atau frontal sekunder akibat penyakit Alzheimer.
Tercapainya suatu teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
5.
Hambatan interaksi social berhubungan dengan hambatan komunikasi sekunder akibat penyakit mental kronis.
Hambatan interaksi social teratasi:
·      Klien mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya denan baik.
·      Klien tidak memiliki rasa bermusuhan/menyerang orang.

Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Carpenito, L.J. 2003. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Salemba Medika: Jakarta






















Definisi
Penyakit Alzheimer  atau  Senile Dementia of the Alzheimer Type (SDAT) merupakan gangguan fungsi kognitif yang onsetnya lambat dan gradual, degenerative, sifatnya progresif dan permanen. Awalnya pasien akan mengalami gangguan fungsi kognitif dan secara perlahan-lahan akan mengalami gangguan fungsi mental yang berat.1,2,3,4